Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kiai Sepuh NU di Lirboyo Minta Pemerintah Tak Intervensi Muktamar ke-35

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Kediri | Harian Merdeka

Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, pada Rabu (26/8/2026). Pertemuan itu dalam rangka menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang.

Dalam pertemuan tersebut menghasilkan tausiyah agar seluruh pihak menjaga independensi, kejujuran dan kondusivitas muktamar. Bahkan, para kiai sepuh dengan tegas meminta pemerintah dan Presiden tidak mengintervensi Muktamar ke-35.

Tampak para kiai sepuh seperti KH Ma’ruf Amin, mantan Wakil Presiden RI. KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Atoillah Sholahudin Anwar dari Pondok Lirboyo, KH Mu’adz Thohir dari Kajen, KH Abdullah Ubab Maimoen dari Rembang, serta KH Muhibbul Aman Aly dari Pasuruan.

Dalam pertemuan tersebut, para kiai sepuh mencermati perkembangan dinamika menjelang Muktamar NU ke-35. Mereka kemudian menyampaikan tausiyah yang ditujukan kepada berbagai pihak, terutama para muktamirin sebagai pemegang hak suara.

KH Ma’ruf Amin mengatakan, pertemuan di Lirboyo merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya di PBNU yang telah menghasilkan seruan moral. Menurutnya, para kiai sepuh kembali merasa perlu memberikan pengingat agar muktamirin menggunakan haknya dengan baik dan tidak terpengaruh tekanan maupun provokasi.

“Kami para sepuh sore hari ini bertemu di sini di Pesantren Lirboyo Kediri untuk mencermati keadaan, situasi terakhir dinamika menjelang dimulainya Muktamar NU ke-35,” kata Ma’ruf Amin.

Ia meminta para pemilik hak suara menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan terhadap sosok yang dinilai paling baik dan mampu menjalankan amanah organisasi.

Ma’ruf Amin menekankan, memilih pemimpin merupakan amanah yang harus dilakukan secara bertanggung jawab. Karena itu, pilihan tidak seharusnya didasarkan pada kepentingan tertentu yang dapat merusak proses organisasi.

Menurut Ma’ruf Amin, proses pemilihan dalam Muktamar NU harus berjalan sesuai akhlak ulama. Ia mengingatkan pihak-pihak yang melakukan tindakan tidak terpuji agar menghentikannya dan memperbaiki kesalahan.

“Saya ingatkan kepada mereka untuk menghentikan, jangan meneruskan hal yang tidak sesuai dengan akhlak para ulama, atau hal yang tidak terpuji,” tegasnya. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *