Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Pemerintah Dorong Teknologi Industri 4.0 untuk Perkuat Penanggulangan Bencana

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Perkembangan teknologi industri 4.0 tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sektor manufaktur, tetapi juga mulai dimanfaatkan untuk menghadapi berbagai tantangan kebencanaan di Indonesia.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari upaya pencegahan dan mitigasi, penanganan saat bencana terjadi, hingga proses pemulihan pascabencana.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan percepatan transformasi digital harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Menurutnya, transformasi digital tidak cukup hanya diukur dari kemampuan dalam mengadopsi teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

“Komponen terpenting pada proses transformasi digital berupa kesadaran manfaat penggunaan peralatan digital, tidak hanya sekadar kemampuan adopsi teknologi, namun harus sejalan dengan perubahan mindset digital,” ujar Agus dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin (21/9).

Dalam mempercepat transformasi digital sektor manufaktur, Kemenperin menjadikan Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) sebagai technology and digital hub bagi sektor manufaktur nasional.

Hingga saat ini, PIDI 4.0 telah membangun kolaborasi dengan sedikitnya 65 mitra. Mitra tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari pelaku industri, penyedia teknologi, asosiasi, hingga perguruan tinggi.

Ekosistem tersebut dinilai memiliki potensi untuk melahirkan berbagai inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satu bidang yang mulai mendapat perhatian adalah pemanfaatan teknologi untuk mendukung pencegahan dan penanggulangan bencana.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan PIDI 4.0 turut membangun kemitraan dengan perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi untuk kebutuhan kebencanaan.

“Terkait dengan bidang penanggulangan bencana, PIDI 4.0 Kementerian Perindustrian memiliki kemitraan dengan dua startup, yaitu TechnoGIS dari Sleman, Yogyakarta dan BATARI Energy dari Cimahi, Jawa Barat. Kedua perusahaan tersebut telah melahirkan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi pencegahan dan penanggulangan bencana di Indonesia,” ujar Adie.

Kedua startup tersebut kemudian dihadirkan Kemenperin dalam Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas peluang kerja sama business-to-business (B2B), sekaligus memperkenalkan kemampuan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri untuk mendukung kebutuhan penanggulangan bencana.

Teknologi Geospasial hingga Energi Darurat Salah satu teknologi yang diperkenalkan berasal dari Techno GIS perusahaan rintisan asal Sleman, Yogyakarta, tersebut mengembangkan teknologi geospasial yang dapat digunakan untuk membantu pemetaan wilayah terdampak bencana.

Salah satunya melalui NiVO VTOL yang mampu menyediakan data dan analisis geospasial secara real time. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperoleh gambaran kondisi wilayah yang terdampak sehingga mendukung kebutuhan pemetaan dalam penanganan bencana.

TechnoGIS juga mengembangkan Blue Marine Echosounder. Teknologi ini digunakan untuk pemetaan wilayah bawah laut serta membantu melihat perubahan alur sungai yang dapat terjadi akibat sedimentasi maupun banjir.

Sementara itu, kebutuhan energi pada situasi darurat menjadi salah satu fokus yang dikembangkan BATARI Energy dari Cimahi, Jawa Barat.

Perusahaan tersebut mengembangkan solusi energi berbasis tenaga surya dan energy storage, termasuk panel surya serta perangkat energi portabel yang dapat digunakan untuk menyediakan kebutuhan energi darurat setelah terjadi bencana.

BATARI Energy juga mengembangkan baterai berkapasitas tinggi dengan bobot yang relatif ringan untuk mendukung pengoperasian drone dalam kegiatan pemetaan wilayah terdampak bencana.

Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan penanggulangan bencana tidak hanya berkaitan dengan respons ketika bencana terjadi. Teknologi juga dapat berperan sejak tahap pemetaan, mitigasi, penyediaan energi darurat, hingga mendukung proses pemulihan.

SDM Industri Juga Dipersiapkan Selain mendorong pengembangan teknologi, Kemenperin juga memperkuat kesiapan sumber daya manusia (SDM) industri agar mampu mendukung ekosistem kebencanaan berbasis teknologi.

Politeknik APP Jakarta melalui Program Studi D3 Manajemen Logistik Industri Elektronika menyiapkan kompetensi di bidang logistik yang berkaitan dengan mitigasi, penanganan kondisi darurat, hingga proses pemulihan pascabencana.

Adie menegaskan pengembangan teknologi kebencanaan perlu berjalan beriringan dengan kesiapan SDM yang mampu mengoperasikan dan memanfaatkannya secara tepat.

“Kementerian Perindustrian terus memperkuat terwujudnya ekosistem kemandirian teknologi kebencanaan, termasuk kesiapan sumber daya manusianya. Harapannya, ke depan Indonesia akan semakin mampu membangun teknologi yang bermanfaat dalam penanganan bencana alam. Bukan sekadar teknologi canggih, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat dirasakan kehadiran dan manfaatnya oleh masyarakat,” tutur Adie.

Melalui penguatan kolaborasi antara industri, startup, penyedia teknologi, perguruan tinggi, dan pemerintah, Kemenperin mendorong agar transformasi industri 4.0 tidak berhenti pada peningkatan kemampuan digital sektor manufaktur.

Teknologi yang dikembangkan di dalam negeri juga diarahkan agar dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk dalam memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi berbagai kondisi bencana.(zim/hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *