Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kawal OMC Pakai APBD, Anggota DPRD DKI Hardiyanto Kenneth Cek 1 Ton Garam di Pondok Cabe

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kekeringan dan polusi udara di wilayah Jabodetabek mendapat pengawasan langsung dari Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth.

Kenneth meninjau pelaksanaan OMC di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (25/9/2026).

Pengawasan dilakukan karena operasi tersebut menggunakan anggaran yang bersumber dari APBD DKI Jakarta.

Menurut Kenneth, penggunaan uang rakyat membuat pelaksanaan OMC harus dikawal agar berjalan sesuai tujuan dan memberikan hasil maksimal.

“Sebagai Anggota Dewan, tentunya saya wajib mengawal kegiatan ini karena OMC menggunakan dana APBD DKI Jakarta yang dihimpun dari skema uang rakyat. Kita harus kawal dan pastikan pelaksanaannya berjalan sebaik-baiknya,” ujar Kenneth dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kenneth turut mengecek persiapan bahan semai yang digunakan untuk penyemaian awan.

Ada yang berbeda dalam pelaksanaan OMC kali ini. Jika sebelumnya menggunakan natrium klorida (NaCl) dalam bentuk cair, pada Jumat petugas membawa NaCl berbentuk bubuk sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton.

“Jika sebelumnya menggunakan NaCl liquid, hari ini yang dibawa adalah NaCl powder sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton,” ungkapnya.

Kenneth berharap penggunaan bahan semai tersebut dapat memicu terbentuknya hujan dengan intensitas yang cukup untuk membantu mengatasi kekeringan sekaligus menekan polusi udara di Ibu Kota.

“Harapan kami hasilnya bisa maksimal sehingga curah hujan yang turun cukup banyak untuk menekan kekeringan sekaligus polusi udara di DKI Jakarta,” katanya.

OMC di wilayah Jabodetabek sendiri telah berlangsung sejak 18 September 2026 dan berakhir pada Jumat, (25/9/2026).

Kenneth mengatakan, berdasarkan informasi BMKG, pertumbuhan awan mulai diprediksi menurun pada 26 September. Karena itu, penyemaian pada hari terakhir operasi diharapkan dapat memicu hujan dalam beberapa hari berikutnya.

“Seperti yang disampaikan oleh pihak BMKG, mulai 26 September potensi pertumbuhan awan cukup rendah. Jadi harapannya garam NaCl yang ditabur selama sepekan terakhir bisa memicu awan hujan dalam waktu dekat,” jelasnya.

Tiga Target OMC

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Marulitua Sijabat menjelaskan, OMC yang digelar pada 18-25 September memiliki tiga sasaran utama.

Pertama, membantu menurunkan polusi udara. Kedua, mengupayakan turunnya hujan di wilayah DKI Jakarta. Ketiga, meningkatkan ketersediaan air baku untuk kebutuhan PAM Jaya.

“Jadi operasi modifikasi cuaca ini tujuannya adalah untuk menurunkan polusi, mengupayakan turunnya hujan dan meningkatkan kebutuhan air baku PAM Jaya,” ujar Marulitua.

Dia mengatakan dampak OMC berupa hujan diperkirakan mulai terlihat dalam beberapa hari setelah operasi berakhir.

Namun, distribusi hujan diprediksi tidak merata di seluruh wilayah Jakarta.

“Hasil modifikasi cuaca kemungkinan bisa terlihat dalam waktu dekat, tapi hujan akan turun lebih banyak di perbatasan. Kalau di wilayah Jakarta mungkin di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,” tuturnya.

Dengan berakhirnya OMC, pemerintah kini menunggu dampak penyemaian awan selama sepekan terakhir. Efektivitas operasi tersebut juga menjadi perhatian mengingat anggaran yang digunakan berasal dari APBD DKI Jakarta.(Agus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *