Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Dasco: Persatuan Pemuda Jadi Kunci Hadapi Tantangan Global dan Regional

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menegaskan semangat persatuan yang diwariskan melalui Sumpah Pemuda 1928 harus terus diwujudkan dalam menghadapi dinamika global dan regional yang semakin kompleks. Menurutnya, persatuan bukan sekadar semboyan, melainkan modal penting untuk menjaga kepentingan nasional dan keselamatan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dasco dalam pidato kebangsaan untuk memperingati 98 Tahun Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026). Acara itu turut dihadiri Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa dan Cucun Ahmad Syamsurijal.

“Mereka tidak menunggu keadaan menjadi mudah untuk bersatu. Mereka bersatu justru karena menyadari bahwa masa depan tidak mungkin diperjuangkan sendiri-sendiri. Itulah keberanian politik generasi 1928: menempatkan cita-cita bangsa di atas batas kelompok. Dan keberanian semacam itu kembali dituntut dari kita hari ini,” ujar Dasco.

Pimpinan DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) tersebut mengingatkan bahwa nilai persatuan yang ditunjukkan generasi 1928 tetap relevan di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi. Indonesia, menurutnya, perlu menjaga kesatuan sikap agar mampu merespons perubahan dunia sekaligus melindungi kepentingan nasional.

Dasco menyoroti sejumlah tantangan internasional, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi, rantai pasok, dan inflasi di dalam negeri. Persaingan negara-negara besar, perebutan penguasaan teknologi, serta perubahan pola perdagangan global juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dan negara-negara ASEAN dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari dinamika Laut Cina Selatan, ancaman siber, keamanan pelayaran, hingga kejahatan lintas batas.

Tantangan tersebut semakin kompleks dengan persoalan domestik dan lingkungan, seperti kebakaran hutan, kabut asap lintas batas, banjir, cuaca ekstrem, serta ancaman terhadap ketahanan pangan. Dasco menilai berbagai persoalan tersebut berkaitan erat dengan keamanan nasional dan keselamatan masyarakat.

“Karena itu, persatuan tidak boleh berhenti menjadi semboyan. Ia harus menjelma menjadi kemampuan negara dalam mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan adil,” tegas Dasco.

Dalam hubungan internasional, Dasco menekankan pentingnya konsistensi Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Indonesia harus tetap mandiri dalam menentukan sikap, tidak menjadi kepanjangan tangan negara mana pun, sekaligus terbuka terhadap kerja sama dengan berbagai pihak.

Di bidang pertahanan, ia menilai diperlukan sikap defensif aktif yang didukung kewaspadaan, kemampuan mencegah ancaman, serta langkah terukur untuk menjaga kedaulatan dan memelihara perdamaian.

Dasco juga menanggapi persoalan kabut asap lintas batas yang menjadi perhatian negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura. Ia menyatakan Indonesia perlu menyikapi kritik dan rekomendasi secara terbuka, sembari mengutamakan perlindungan warga terdampak, penegakan hukum, dan pemulihan lingkungan.

Menurutnya, kritik tidak seharusnya ditanggapi dengan ketersinggungan, melainkan dijawab melalui tindakan nyata yang dapat dievaluasi.

Pada akhir pidatonya, Dasco mendorong parlemen negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama secara berkelanjutan, bukan hanya ketika krisis terjadi. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi bencana, memperkuat keamanan siber, menjaga ketahanan pangan dan energi, serta menangani persoalan lintas batas.

“Kita perlu membangun kerja sama antar parlemen untuk pencegahan bencana, keamanan cyber, ketahanan pangan dan energi, serta penyelesaian persoalan lintas batas. Kita tidak dapat memilih tetangga, tetapi kita dapat memilih cara bertetangga: saling menghormati, berbicara terus terang, dan mencari jalan keluar bersama,” pungkas Dasco. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *