Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Wamenkeu Dorong Penguatan Pasar Keuangan sebagai Sumber Pembiayaan Pembangunan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | Harian Merdeka

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mendorong percepatan pendalaman pasar keuangan nasional agar mampu menjadi salah satu penopang utama pembiayaan pembangunan Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan Juda saat menghadiri Peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026).

Juda mengungkapkan, kebutuhan investasi Indonesia dalam APBN 2027 diperkirakan mencapai Rp8.705 triliun. Namun, kapasitas pembiayaan dari pemerintah melalui APBN hanya sekitar Rp459 triliun. Sementara kontribusi BUMN, termasuk Danantara, mencapai sekitar Rp330 triliun.

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar kebutuhan pembiayaan harus ditopang oleh sektor swasta. Nilainya mencapai sekitar Rp7.973 triliun atau setara 91 persen, yang berasal dari perbankan maupun sumber pembiayaan lainnya, termasuk pasar modal.

Menurut Juda, kondisi tersebut menunjukkan besarnya peran strategis pasar modal dalam mendukung kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional.

“Di sinilah pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan,” ujar Juda.

Ia menilai pasar modal bukan hanya berfungsi sebagai tempat penghimpunan dana, tetapi juga dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah mendorong terciptanya pasar modal yang semakin dalam, likuid, terpercaya, dan kredibel.

Juda mengatakan, penguatan tersebut diperlukan agar pasar modal mampu memfasilitasi kebutuhan investasi sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Ia mencatat, pasar modal Indonesia telah menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang semester I 2026, dana yang berhasil dihimpun telah mencapai lebih dari Rp125 triliun. Jumlah investor juga telah menembus sekitar 28 juta.

Meski demikian, Juda mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat industri pasar modal berpuas diri. Menurutnya, masih diperlukan berbagai langkah untuk memperluas basis investor, memperkaya pilihan instrumen investasi, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola.

“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” katanya.

Pemerintah, lanjut Juda, juga menyambut berbagai agenda reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Reformasi tersebut mencakup penguatan likuiditas, transparansi, tata kelola, hingga upaya pendalaman pasar melalui rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Juda mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas sebagai langkah untuk memperluas pilihan instrumen investasi sekaligus meningkatkan likuiditas pasar modal Indonesia.

Menurutnya, instrumen berbasis emas memiliki peluang besar untuk berkembang seiring meningkatnya minat investor global terhadap ETF emas. Pada 2025, aset kelolaan ETF emas global tercatat mencapai sekitar US$559 miliar dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.

Namun, Juda mengingatkan bahwa pengembangan ETF Emas harus dibarengi dengan penguatan kepercayaan investor. Sebab, instrumen tersebut memiliki aset dasar berupa emas fisik sehingga aspek penyimpanan, valuasi, dan akuntabilitas transaksi harus dijaga secara ketat.

“Inovasi membutuhkan integritas, dan integritas adalah fondasi dari kepercayaan (trust),” tegasnya.

Juda berharap kehadiran ETF Emas tidak sekadar memperbesar ukuran pasar modal Indonesia. Lebih dari itu, instrumen tersebut diharapkan mampu mendorong pasar modal menjadi semakin dalam, inklusif, prudent, dan kredibel.

“Pasar yang dalam membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan integritas. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan. Mari kita bersama membangun dan menjaga kepercayaan tersebut,” pungkas Juda.(zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *