Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kisah di Balik Kirab Bendera Pusaka HUT RI ke-81, dari Paskibraka hingga Pasukan Berkuda

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Di balik kemeriahan Kirab Bendera Pusaka dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), tersimpan cerita tentang orang-orang yang menjalankan tugas dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab.

Salah satunya adalah Bianca Alessia Christabella Lantang, Purna Paskibraka asal Sulawesi Utara yang dipercaya membawa teks Proklamasi dalam prosesi penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih.

Bagi Bianca, kepercayaan tersebut bukan sekadar sebuah kehormatan. Tugas membawa teks Proklamasi menjadi amanah yang harus dijalankan dengan penuh keseriusan.

“Tentunya sangat senang dan bersyukur karena ini juga merupakan tugas yang menurut saya harus penuh dengan tanggung jawab dan keseriusan,” ujar Bianca.

Cerita serupa datang dari Nindya Eltsani Fawwaz, Purna Paskibraka 2025 asal Jambi. Dalam prosesi kirab dari Istana Merdeka menuju Monas, Nindya dipercaya membawa duplikat Bendera Pusaka.

Tanggung jawab tersebut membuat Nindya harus menjaga konsentrasi sepanjang perjalanan. Ia harus memastikan bendera tetap dalam kondisi baik, sekaligus menjaga ketenangan di tengah ribuan pasang mata yang menyaksikan prosesi tersebut.

“Tentunya rasanya juga sangat deg-degan, karena kita harus menjaga bendera itu biar nggak jatuh atau nggak kena angin atau terlipat. Tapi harus tetap tenang dan tetap tersenyum dalam membawa bendera tersebut,” ungkap Nindya.

Kemegahan kirab juga tidak terlepas dari kesiapan pasukan berkuda. Kolonel Taufik Dwinova, Komandan Kavaleri sekaligus pemimpin pasukan berkuda, mengatakan sekitar 120 ekor kuda dilibatkan dalam rangkaian kirab pagi dan sore.

Formasi pasukan berkuda tersebut memiliki makna simbolis. Kelompok 17 melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia, kelompok 8 mewakili bulan Agustus, sedangkan kelompok 81 menjadi simbol HUT ke-81 Republik Indonesia.

Persiapan untuk menampilkan formasi tersebut dilakukan jauh-jauh hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Setiap detail dipersiapkan agar penampilan pasukan dapat berjalan dengan baik di hadapan masyarakat.

“Harapannya dengan kita melakukan persiapan dengan baik, apa yang akan ditampilkan di acara ini kepada masyarakat juga tentunya sebagai sebuah suguhan yang terbaik, yang bisa menghibur warga masyarakat dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi seluruh warga Indonesia,” ucap Taufik.

Sementara itu, Kapten CPM (K) Vikita Putri, S.Tr.Han, mendapat kepercayaan memimpin 45 personel motoris dalam rangkaian Kirab Bendera Pusaka. Pasukan tersebut terdiri atas 15 personel wanita TNI dan 30 personel laki-laki dengan formasi paruh lembing.

Bagi Vikita, kepercayaan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar.

“Perasaan saya terharu dan bangga atas tanggung jawab pada tahun ini saya bisa menjadi Danki motoris dalam rangkaian HUT RI ke-81,” ujarnya.

Di balik ketegasannya memimpin pasukan, Vikita juga membawa doa dan dukungan keluarganya. Ia secara khusus menyampaikan pesan kepada kedua anaknya, El dan Al, yang menjadi sumber semangatnya dalam menjalankan tugas.

“Pesan buat anakku tersayang, El dan Al, kamu harus bangga sama ibu karena ibu bisa di titik ini, bisa di hari ini dengan doa kalian. Dan ibu mencurahkan semua tenaga ibu hari ini buat jadi kebanggaan kalian,” tuturnya.

Kirab Bendera Pusaka bukan sekadar parade yang menghadirkan kereta kencana, pasukan berkuda, motoris, hingga busana Nusantara. Di balik kemeriahannya, terdapat latihan panjang, kedisiplinan, pengorbanan, serta tanggung jawab besar dari mereka yang dipercaya membawa dan mengawal simbol-simbol penting perjalanan bangsa.

Bagi mereka, menjaga Merah Putih bukan hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga tentang menjaga kehormatan dan kebanggaan Indonesia. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *