Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Bappenas: Kerja Sama Energi RI-Jerman Harus Berujung Investasi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Pemerintah Indonesia dan Jerman sepakat memperkuat kerja sama transisi energi dengan mendorong kemitraan menuju tahap yang lebih konkret. Kerja sama kedua negara ke depan tidak lagi berhenti pada studi dan dialog kebijakan, tetapi diarahkan pada percepatan investasi serta implementasi proyek.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, saat menyampaikan pidato kunci dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

ISEW 2026 menjadi forum yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan Jerman untuk membahas kerja sama sektor energi, termasuk peluang investasi dan pemanfaatan teknologi.

Dalam pidatonya, Rachmat menegaskan bahwa tahap selanjutnya dari transisi energi Indonesia harus berorientasi pada implementasi. Hal tersebut dilakukan melalui penguatan proyek, pembiayaan, dan investasi yang sejalan dengan prioritas pembangunan nasional.

“Setiap kebijakan energi utama harus memiliki jalur proyek yang jelas. Setiap jalur proyek harus memiliki jalur pembiayaan dan setiap investasi harus berkontribusi langsung terhadap prioritas pembangunan nasional kita,” ujar Rachmat dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu.

Indonesia dan Jerman telah lama menjadi mitra dalam pembangunan berkelanjutan. Kerja sama tersebut mencakup penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas kelembagaan, bantuan teknis, hingga dialog antarpemangku kepentingan.

Namun, Rachmat menilai kemitraan kedua negara perlu memasuki tahap baru dengan menggeser fokus dari penguatan pengetahuan menuju investasi, dari studi menuju proyek, serta dari dialog kebijakan menuju implementasi di lapangan.

Menurutnya, kerja sama transisi energi juga harus mampu memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.

“Transisi energi tidak hanya menjadi bagian dari upaya menurunkan emisi, tetapi juga dapat menjadi mesin baru industrialisasi, memperkuat ketahanan energi, menciptakan peluang ekonomi baru di seluruh penjuru Indonesia, serta mendukung transformasi Indonesia menuju 2045 yang lebih cepat, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Rachmat.

Jerman Perkuat Komitmen Investasi Hijau

Sejalan dengan arah tersebut, Menteri Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan, menyampaikan komitmen Pemerintah Jerman untuk terus mendukung pengembangan investasi yang berorientasi pada keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

Komitmen tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat kemitraan Indonesia-Jerman dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor transisi energi.

Dengan penguatan investasi dan implementasi proyek, kerja sama energi kedua negara diharapkan tidak hanya mendukung pencapaian target penurunan emisi, tetapi juga membuka peluang industrialisasi hijau, meningkatkan ketahanan energi, serta menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kerja sama tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju visi pembangunan 2045 yang inklusif dan berkelanjutan. (Hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *