Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Pengamat dan Tokoh NU Nilai KH Said Aqil Siroj Sosok Tepat Emban Amanah Rais Aam PBNU

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Nama mantan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj semakin menguat sebagai calon Rais Aam PBNU. Dia dinilai sebagai sosok yang berpengalaman, konsolidator, dan selalu turun langsung menyelesaikan masalah.

“Saya mengikuti kabinetnya Pak Said. Saya juga lama berinteraksi dengan beliau. Setahu saya, dalam dua periode (Ketua Umum PBNU), Pak Said itu relatif aman. Nggak ada masalah, ” terang Tokoh Senior NU KH. Adnan Anwar.

Menurutnya, persoalan yang bersifat furu’ atau cabang bisa diselesaikan dengan baik. Selama kepemimpinan Kiai Said, tidak pernah ada keributan, karena semua masalah bisa dibereskan.

Tentu, kata Kiai Adnan, masalah tetap ada, tapi tidak sampai menimbulkan guncangan-guncangan yang menyebabkan perpecahan di internal organisasi.

“Artinya Pak Said itu figur yang konsolidator. Sosok yang pengalaman, kemudian beliau juga berinteraksi dengan masalah geopolitik. Itu sangat penting,” bebernya.

Kiai Said juga dikenal sebagai pemimpin yang turun langsung menyelesaikan masalah. Misalnya, ketika ada polemik nasab Ba’lawi, Kiai Said berupaya menjelaskan masalah tersebut, sehingga masalah mereda.

Bagaimana dengan nama lain, seperti KH Ma’ruf Amin dan KH Miftachul Akhyar yang juga digadang-gadang sebagai calon Rais Aam PBNU?.

Kiai Adnan mengatakan, Kiai Ma’ruf merupakan sosok yang berpengalaman. Sedangkan Kiai Mifta, masa kepemimpinannya diwarnai konflik dan aksi saling pecat dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

“Kalau memecat, kebahayanya kan personifikasi individu. Seolah-olah NU itu menjadi urusan individu. Itu implikasi bahaya dari seseorang yang memecat ketua tanfidziyah. Itu kan belum pernah terjadi ya,” tegasnya.

Menurut Kiai Adnan, di internal NU memang pernah ada waki ketua yang dipecat. Tapi setelah itu kemudian rekonsiliasi. Akhirnya pengurus itu masuk lagi dan damai.

“Peristiwa pecat-memecat itu jarang terjadi. Di sepanjang kami di PBNU dulu ya, tidak ada pecat-memecat, ” tegas Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) itu. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *