Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Aksi Unras Kader NU di KPK: Desak Usut Suap HGB & Copot Nusron Wahid

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Massa yang mengatasnamakan kader dan elemen Komisi Pemberantasan Korupsi Nahdlatul Ulama (KPK NU) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat (25/9/2026).

Aksi tersebut menyoroti Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, yang dikaitkan oleh massa dengan perkara dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) lahan PT Summarecon Agung Tbk yang tengah ditangani oleh lembaga antirasuah.

Pantauan di lokasi menunjukkan massa mengenakan kaus putih bertuliskan “KPK NU” dengan atribut hijau. Mereka membentangkan berbagai poster berukuran besar dan spanduk di depan gedung, di antaranya bertuliskan “Merusak Marwah NU”, “Malu Gus Segera Mundur”, “Malu Senior Segera Mundur”, “Tangkap Money Politic”, serta desakan agar Presiden Prabowo bertindak tegas memberantas korupsi. Sejumlah poster juga tampak menampilkan foto Nusron Wahid.

Dalam orasinya, KH Khosim dari Majalengka mengungkit sejarah perjuangan para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama. Ia mengingatkan agar organisasi yang didirikan para ulama besar tersebut tidak dicemari oleh kepentingan politik praktis maupun materi.

“Kami keluarga NU dari Jawa Barat datang ke Jakarta karena para pendiri NU mendirikan tatanan organisasi bukan untuk sekadar hura-hura. Tetapi NU saat ini, ketika pimpinan utamanya, sudah diincar oleh para anasir,” kata KH Khosim di hadapan massa, dikutip dari RMOL.

KH Khosim juga menyinggung dinamika internal NU serta proses pemilihan di tingkat Muktamar yang dinternalisasi oleh kepentingan segelintir elite di birokrasi pusat. Ia turut mengenang para pendiri seperti Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Bisri Syansuri, dan Kiai Hasbullah dengan penuh keprihatinan.

Sementara itu, orator lainnya secara terbuka menyoroti figur Nusron Wahid. Orator tersebut menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk membuka aib organisasi, melainkan menyuarakan keresahan atas runtuhnya marwah kebesaran NU.

“Kami hadir hari ini bukan untuk gagah-gagahan, melainkan menyuarakan ketidakrelaan atas hancurnya marwah kebesaran Nahdlatul Ulama, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah,” ujar salah satu orator.

Orator tersebut turut menyinggung lembaga Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang berisikan para kiai sepuh. Menurutnya, siapa pun yang memperdagangkan marwah para kiai sepuh demi kepentingan tertentu tidak akan mendapat ampunan moral dari umat.

Sebagai bentuk ekspresi penolakan terhadap korupsi, massa aksi sempat melakukan sujud bersama di halaman depan Gedung Merah Putih KPK. Aksi ini diikuti oleh peserta dari berbagai elemen, termasuk Fatayat, Muslimat, Ansor, serta aktivis muda NU.

Aksi unjuk rasa ini berlangsung di tengah langkah penyidikan intensif yang sedang dilakukan KPK terhadap perkara dugaan suap pengurusan HGB lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, yang turut menyeret sejumlah anak buah serta orang dekat Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebagai tersangka. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *