Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kemendag Gandeng BINUS University, 25 Kampus Kini Masuk Campuspreneur

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Tangerang I harian Merdeka 

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas gerakan mencetak wirausaha muda berorientasi ekspor melalui program Campuspreneur. Terbaru, BINUS University resmi bergabung sehingga jumlah perguruan tinggi yang mengikuti program tersebut kini mencapai 25 kampus.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang mampu mendorong produk Indonesia menembus pasar internasional.

Hal itu disampaikan Budi saat memberikan kuliah umum bertajuk Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor di BINUS University, Alam Sutera, Tangerang, Jumat (25/9/2026).

“Bergabungnya BINUS University hari ini menandakan Kemendag telah menjalin sinergi dengan 25 kampus untuk mengembangkan ekosistem wirausaha di perguruan tinggi,” kata Budi.

Menurutnya, Campuspreneur dirancang untuk membekali mahasiswa, dosen, serta pelaku UMKM dengan pengetahuan dan pengalaman agar mampu mengembangkan bisnis dari pasar lokal menuju pasar global.

Program tersebut merupakan bagian dari Dari Lokal untuk Global, yang juga mencakup berbagai aktivitas pelatihan ekspor dan pendampingan usaha.

Kerja sama Kemendag dan BINUS diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) implementasi Tridarma Perguruan Tinggi di bidang perdagangan. MoU ditandatangani Rektor BINUS University Nelly dan Sekretaris Jenderal Kemendag Isy Karim.

Tak berhenti di tingkat kampus, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk membuka akses pasar bagi UMKM.

Sebanyak enam UMKM binaan BINUS University menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan ritel modern. Lima UMKM menggandeng Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), sedangkan satu UMKM menandatangani LoI dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).

Kesempatan Tembus Pasar Internasional

Budi juga mengungkapkan, peserta Campuspreneur terpilih akan mendapat kesempatan mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang digelar pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang.

Kemendag bahkan menyiapkan stan khusus untuk menampilkan produk-produk Campuspreneur yang telah melalui proses kurasi.

Rektor BINUS University Nelly menilai, kemampuan pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan produk yang bagus. Mereka juga harus memahami pasar, membangun strategi dan jejaring, berani belajar, serta mampu membaca peluang.

“Campuspreneur menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para praktisi, membangun koneksi, serta memahami perjalanan bisnis dari pasar lokal menuju pasar global,” ujar Nelly.

Program ini juga mendapat respons dari mahasiswa. Lanang Bayu Triaji, mahasiswa Program Studi International Business Management BINUS University, berharap Campuspreneur dapat membuat mahasiswa dan pelaku usaha muda semakin percaya diri mengambil peluang di pasar internasional.

Dari Kampus Langsung Lepas Ekspor

Menariknya, rangkaian Campuspreneur di BINUS tidak hanya diisi kuliah umum dan kegiatan pendampingan. Pada kesempatan yang sama, Mendag Budi Santoso juga melepas ekspor 1.560 ton arang tempurung kelapa atau coconut charcoal ke Tiongkok.

Nilai ekspor tersebut mencapai USD1,34 juta atau sekitar Rp23 miliar.

Ekspor dilakukan FUTRA Export, salah satu pelaku usaha binaan BINUS University. Pengiriman terdiri atas 60 kontainer arang tempurung kelapa yang akan digunakan sebagai bahan baku karbon aktif di Tiongkok.

Pendiri FUTRA Export Steven Magnus mengatakan, berbagai fasilitas Kemendag turut membantu pengembangan bisnis ekspornya, mulai dari business matching, keikutsertaan dalam TEI hingga dukungan perwakilan perdagangan RI di luar negeri.

Rangkaian Campuspreneur juga menghadirkan sejumlah klinik konsultasi, antara lain Klinik NIB dan Perizinan, Klinik Desain, Klinik Ekspor, Klinik Standar Kemasan dan Mutu, Klinik Sertifikasi, serta Klinik Kemitraan.

Kemendag juga membuka konsultasi program magang pada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri bagi mahasiswa.

Transaksi UMKM Tembus USD346,99 Juta

Selain Campuspreneur, Kemendag terus mendorong UMKM masuk pasar ekspor melalui program UMKM BeranI Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (BISA Ekspor).

Program ini memanfaatkan jaringan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk mempromosikan produk lokal sekaligus mempertemukan UMKM dengan calon pembeli internasional.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, fasilitasi melalui program UMKM BISA Ekspor mencatat nilai transaksi mencapai USD346,99 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan transaksi sepanjang 2025 yang tercatat USD134,87 juta.

Budi menegaskan, pelaku UMKM tidak perlu minder hanya karena belum pernah melakukan ekspor.

Menurut dia, Indonesia memiliki banyak produk yang potensial untuk pasar internasional. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kualitas produk dan memperkuat kemampuan pemasaran.

“Indonesia juga tidak kekurangan produk karena UMKM kita memiliki banyak produk yang bagus. Justru hal penting yang harus dimiliki adalah konsistensi menjaga produk dan kemampuan memasarkannya,” ujar Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *