Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Resmikan Perpustakaan Danantara, Fadli Zon Perkuat Literasi Museum

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka 

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa hadirnya perpustakaan di Museum Nasional Indonesia merupakan dua elemen yang saling melengkapi dalam memperkuat fungsi museum sebagai ruang pembelajaran yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara Peresmian Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Perpustakaan Danantara – Museum Nasional Indonesia merupakan kemitraan strategis Danantara Indonesia Trust dan Kementerian Kebudayaan melalui Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya untuk memperluas akses pengetahuan, budaya membaca, serta literasi masyarakat.

Melalui pilar pendidikan dan budaya, inisiatif ini menghadirkan ruang belajar yang inklusif sekaligus memperkuat peran Museum Nasional Indonesia sebagai pusat edukasi sejarah dan kebudayaan Nusantara.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi kolaborasi dan dukungan Danantara dalam menghadirkan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, sehingga warisan buku yang ada di Museum Nasional Indonesia dapat diakses dan dimanfaatkan oleh publik.

Selain itu, perpustakaan dalam museum merupakan bagian dari infrastruktur riset dan produksi pengetahuan museum.

“Museum dan perpustakaan tumbuh sebagai satu ekosistem yang menghubungkan koleksi, dokumentasi, riset, pendidikan, dan akses publik. Buku-buku yang ada, 30.000 buku, tanpa kolaborasi ini, mungkin tidak bisa di-display atau dimanfaatkan dengan baik. Kolaborasi strategis ini mendorong perpustakaan dan museum sebagai elemen yang saling melengkapi,” ungkap Menbud.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin menyampaikan bahwa kolaborasi ini turut membuka lebih banyak kesempatan agar pengetahuan yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat luas.

Ia menyampaikan bahwa koleksi perpustakaan mencakup buku umum, buku bertema budaya daerah, buku internasional, buku referensi, terbitan Museum Nasional Indonesia, serta hikayat dan literatur lama.

”Sementara ini beberapa koleksi unggulan adalah koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, koleksi sastra lama termasuk Serat Centhini, dan terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berisi kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi. Ada juga buku tertua tahun 1859, Netherlands Oost-Indië, dan buku perjalanan dari Dr. S.A. Buddingh,” papar Kepala Museum dan Cagar Budaya.

Perpustakaan Danantara – Museum Nasional Indonesia telah mengintegrasikan teknologi Senayan Library Management System (SLiMS) dan fasilitas Online Public Access Catalog (OPAC).

Sebagai upaya menjaga kelestarian koleksi, kapasitas kunjungan dibatasi maksimal 20 orang per jam dengan sistem registrasi daring (online) untuk pemilihan jadwal dan ketersediaan sesi.

Selain ruang baca, fasilitas lain yang dapat dimanfaatkan publik meliputi ruang layanan informasi, ruang rapat (meeting room), serta loker penitipan barang.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berharap kedepannya museum dan perpustakaan dapat tumbuh sebagai satu ekosistem terpadu yang menghubungkan koleksi, dokumentasi, riset, pendidikan, dan akses publik.

“Perpustakaan Danantara ini diharapkan dapat semakin memperkuat peran Museum Nasional Indonesia sebagai ruang pengetahuan dan pembelajaran budaya. Sekaligus mendukung tugas dan fungsi museum dan cagar budaya dalam mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya untuk kepentingan masyarakat”.

Hadir dalam acara peresmian ini yaitu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen; Ketua Pengawas Danantara Indonesia Trust, Aivi Santoso; Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak; Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia, Mego Pinandito; dan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional, Adin Bondar. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo; Inspektur Jenderal, Fryda Lucyana; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerjasama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin; para Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya; dan para Penasihat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust diharapkan terus berkembang, sehingga Museum Nasional Indonesia mampu bertransformasi menjadi institusi publik yang semakin terbuka, terhubung, dan produktif dalam menghasilkan pengetahuan.

Lebih dari sekadar ruang edukasi, penguatan museum dan perpustakaan ini menjadi modal penting dalam menggerakkan ekonomi budaya yang berkelanjutan serta memperkuat industri kreatif nasional.

Pada akhirnya, kebudayaan hadir tidak hanya sebagai fondasi untuk memperkuat persatuan dan membangun kemajuan bangsa, tetapi juga sebagai mesin penggerak pertumbuhan yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *