Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Ahmad Doli Turun Tangan ke Pemalang Usai Siswa SD Meninggal Akibat Perundungan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Dugaan perundungan yang menewaskan siswa kelas II SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Muhammad Hasbi Al Aqib (7), kembali membuka luka lama kasus kekerasan anak di Indonesia.

Korban diduga dipalak dan dipukuli kakak kelasnya hingga meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026).

Jenazah kemudian diautopsi tim Bidokkes Polda Jateng di RSUD M Azhari Pemalang.

Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar, menyatakan pihaknya telah menerima laporan masyarakat dan langsung melakukan penyelidikan.

“Kami sedang melaksanakan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian korban. Proses ini dibantu tim forensik Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation,” ujarnya, dikutip Minggu (4/10/2026).

Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengungkapkan anaknya sempat dirawat di rumah sakit selama sembilan hari.

“Pulih sebentar, lalu sakit lagi. Kemarin berniat dibawa ke rumah sakit, tapi sudah meninggal,” katanya kepada wartawan.

Sorotan Ahmad Doli

Anggota Komisi II DPR RI, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mengecam keras peristiwa ini.

“Sekali lagi kita melihat kekerasan yang dialami anak-anak, bahkan kali ini sampai merenggut nyawa. Saya mengecam keras kejadian ini,” tulisnya di akun Instagram, Minggu (4/10/2026).

Doli menegaskan, kasus Pemalang menunjukkan fungsi pendidikan dan perlindungan anak belum berjalan optimal.

Ia berencana mendatangi Pemalang untuk bertemu pihak sekolah, aparat, dan masyarakat.

“Anak-anak adalah wajah masa depan bangsa. Kalau wajah anak-anak ini rusak dan kita biarkan, maka sama saja kita merusak masa depan bangsa,” ujarnya.

Ahmad Doli menegaskan bahwa kasus Pemalang harus menjadi momentum memperkuat kolaborasi sekolah, aparat, masyarakat, dan negara.

“Kita semua harus menghentikan kekerasan anak segera. Saya mohon doa agar langkah ini bisa mencegah kasus serupa di masa mendatang,” pungkasnya.

Rekam Jejak Doli dalam Isu Anak

Ahmad Doli bukan kali pertama menyoroti kasus kekerasan anak.

Sejak 2020, ia aktif mengawal berbagai kasus di Sumatera Utara dan daerah lain:

– Kasus pelecehan di Asahan: Doli melaporkan langsung ke KPAI dan mendampingi orang tua korban.
– Kasus Sidikalang, Dairi: Bocah 8 tahun mengalami kekerasan sadis. Doli turun langsung ke RS Haji Medan memastikan perawatan intensif.

– Kasus Tanjungbalai dan Batubara: Ia menemui korban dan keluarga, sekaligus mengkritik aparat yang lamban.

Selain itu, Doli mendorong pembentukan Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTPPA) di setiap kabupaten/kota agar pengaduan korban bisa ditangani lebih cepat.

Catatan KPAI

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menyebut pihaknya menerima laporan kasus Pemalang pada Kamis (1/10/2026).

“Korban disebut mengalami perundungan karena tidak mau memberikan uang kepada pelaku. Kedua pelaku emosi dan melakukan penganiayaan. Korban diduga mengalami luka dalam,” ujarnya. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *