Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Wamen komdigi Apresiasi MBG Digital untuk Anak Berkebutuhan Khusus 

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Tangerang Selatan | Harian Merdeka

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo mengapresiasi pemanfaatan teknologi digital dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak berkebutuhan khusus. Program yang dijalankan Grab dan OVO bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa tersebut mengintegrasikan proses pemesanan makanan, pengiriman, hingga pelaporan layanan.

Apresiasi itu disampaikan Angga saat meninjau pelaksanaan MBG di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan, Kamis (15/10/2026). Ia menilai keterlibatan sektor swasta menjadi bentuk dukungan terhadap program prioritas pemerintah, terutama dalam memenuhi kebutuhan gizi anak berkebutuhan khusus.

“Ini adalah bukti sinergi bahwa program prioritas pemerintah tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga teman-teman yang berusaha di Indonesia, perusahaan-perusahaan atau yayasan-yayasan yang memiliki kepedulian juga memahami pentingnya program ini,” ujar Angga.

Menurut Angga, pemenuhan gizi bagi anak berkebutuhan khusus harus memperhatikan kebutuhan masing-masing penerima manfaat. Selain kandungan nutrisi, penyusunan menu juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik anak.

Saat meninjau penyajian makanan di sekolah tersebut, ia melihat menu yang diberikan telah memperhatikan kebutuhan gizi, termasuk asupan protein dan karbohidrat.

“Alhamdulillah, tadi saya lihat sendiri anak-anak senang. Makanannya juga sangat baik, penyajiannya dari sisi gizi dan menu yang disajikan sangat baik, sesuai kebutuhan protein, kebutuhan karbohidrat. Karena di sini adalah sekolah khusus, dari anak-anak yang berbagai macam kebutuhan khusus, menunya juga disesuaikan,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap kebutuhan penerima manfaat menjadi faktor penting agar program MBG dapat memberikan dampak optimal. Karena itu, penyelenggaraan layanan perlu memperhatikan kondisi anak, sehingga makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Teknologi Digital Dukung Operasional MBG

Selain meninjau kualitas makanan, Angga menyoroti penggunaan sistem digital dalam operasional program tersebut. Teknologi dimanfaatkan untuk menghubungkan pihak sekolah dengan penyedia makanan, mitra pengiriman, serta mekanisme pelaporan apabila ditemukan kekurangan dalam layanan.

Melalui aplikasi yang disiapkan Grab, pihak sekolah dapat memesan menu untuk kebutuhan satu minggu ke depan. Proses pengiriman juga melibatkan mitra Grab, sementara pelaporan digunakan untuk menyampaikan kendala atau kekurangan dalam penyajian makanan.

“Setelah ini, tadi kita lihat prosesnya bahwa semuanya full digital. Dari mulai proses pemesanan, sekolah menggunakan aplikasi yang disiapkan oleh Grab untuk memesan menu seminggu ke depan. Kemudian dari proses delivery-nya juga melibatkan mitra-mitra dari Grab sendiri, sampai nanti proses pelaporan,” jelas Angga.

Ia menilai model tersebut memperlihatkan peran penyelenggara sistem elektronik dalam mendukung program sosial melalui teknologi dan jaringan mitra usaha. Praktik ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk pengembangan layanan serupa yang menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

Jangkau 5.000 Murid di 12 Kabupaten/Kota

Program MBG yang dijalankan Grab dan OVO bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Pelaksanaannya juga melibatkan pelaku usaha kuliner di sekitar sekolah sebagai mitra penyedia makanan.

Berdasarkan informasi penyelenggara, program tersebut telah menjangkau sekitar 5.000 murid di 12 kabupaten/kota dengan dukungan sekitar 40 mitra usaha. Inisiatif yang berjalan sejak 2024 itu dilanjutkan sebagai bentuk partisipasi sektor swasta dalam mendukung pemenuhan gizi anak.

Dalam menjaga mutu makanan, Grab dan OVO mengikuti standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk mengenai kandungan gizi, kebersihan, dan kualitas makanan. Penyelenggara juga bekerja sama dengan dinas kesehatan serta ahli gizi. Mitra usaha yang terlibat disebut telah memiliki sertifikasi sesuai keterangan pihak penyelenggara.

Khusus di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan, satu mitra usaha menyiapkan sekitar 280 porsi makanan setiap hari.

Keterlibatan usaha kuliner lokal tersebut tidak hanya mendukung penyediaan makanan bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi juga membuka ruang partisipasi pelaku usaha di sekitar sekolah dalam pelaksanaan program sosial.

Melalui kolaborasi antara perusahaan, yayasan, mitra usaha, dan pemanfaatan teknologi digital, pelaksanaan MBG diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperluas akses pemenuhan gizi bagi anak berkebutuhan khusus.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *