Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Dua Tahun Prabowo: Budiman Paparkan Strategi 3 Tahap Bebas Kemiskinan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Di tahun kedua Pemerintahan Prabowo-Gibran, pemerintah menegaskan kembali komitmen pengentasan kemiskinan, dan akan memberi perlindungan pada keluarga miskin yang membutuhkan layanan dasar serta pendampingan.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko mengatakan, hal itu penting dilakukan karena upaya untuk keluar dari kemiskinan itu tidak terjadi dalam satu langkah.

Menurutnya, keluarga yang sedang berada dalam kondisi miskin membutuhkan perlindungan, keluarga yang mulai bangkit membutuhkan layanan dasar dan pendampingan, sementara mereka yang telah memiliki kemampuan ekonomi membutuhkan aset untuk dapat berdiri sendiri.

Kerangka tersebut dijadikan sebagai dasar pendekatan 3 tahap pengentasan kemiskinan, yakni dari jenjang miskin, graduasi, hingga mandiri. Budiman mengatakan, setiap tahap membutuhkan instrumen kebijakan yang berbeda.

Bantuan sosial dibutuhkan untuk mencegah keluarga semakin terpuruk, layanan dasar dibutuhkan untuk membuka kesempatan keluar dari kemiskinan, sedangkan aset dibutuhkan agar keluarga dapat membangun kemandirian ekonomi.

“Di BP Taskin, kami membagi jalan keluar dari kemiskinan menjadi tiga tahap: miskin, graduasi, mandiri. Setiap tahap butuh alat yang berbeda,” kata Budiman dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Di tahap keluarga miskin, menurutnya persoalan paling mendesak adalah memastikan keluarga tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar. Bantuan pangan, bantuan subsidi upah, dan berbagai kartu kesejahteraan.

Semua itu ditempatkan sebagai bantalan, agar keluarga yang mengalami tekanan ekonomi tidak jatuh semakin dalam.

“Bantuan tersebut bukan tujuan akhir. Fungsinya adalah memberikan ruang bagi keluarga untuk bertahan sebelum memasuki tahap berikutnya,” ujarnya.

Lalu tahap kedua adalah graduasi, dimana sebuah keluarga tidak cukup hanya dilindungi dari kemerosotan. Mereka tentunya juga membutuhkan layanan yang memungkinkan peningkatan kapasitas.

Budiman menempatkan Layanan Dasar Universal (LDU) sebagai fondasi tahap tersebut. Program itu antara lain mencakup Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, sekolah unggulan, renovasi sekolah, serta peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kesehatan.

“Layanan dasar seperti makanan dan pendidikan bukan sekadar bantuan konsumsi. Layanan tersebut merupakan fondasi agar seseorang memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan keluar dari kondisi miskin,” kata Budiman.

Setelah perlindungan dan layanan dasar terpenuhi, persoalan berikutnya adalah bagaimana keluarga memiliki sumber daya yang dapat menopang kehidupan mereka secara berkelanjutan. Di tahap ini, Budiman menggunakan konsep Aset Dasar Universal (ADU).

Aset yang dimaksud antara lain sisa hasil usaha dari Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, kapal dan cold storage di Kampung Nelayan, tanah melalui reforma agraria, serta rekening bank yang menjadi pintu menuju kredit usaha.

“Jika bantuan sosial berfungsi sebagai bantalan dan layanan dasar berfungsi sebagai lantai, maka aset diposisikan sebagai tangga menuju kemandirian,” ujarnya. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *