Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Meutya Hafid Soroti Kesehatan Mental Wartawan di Tengah Tekanan Era Digital

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental wartawan di tengah meningkatnya tekanan kerja dan derasnya arus informasi digital. Dukungan dari perusahaan media dinilai diperlukan agar jurnalis dapat menjalankan tugas secara profesional tanpa mengabaikan kondisi psikologis mereka.

Pesan tersebut disampaikan Meutya saat menghadiri kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi ratusan anggota Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).

Menurut Meutya, pekerjaan jurnalistik memiliki tantangan tersendiri karena wartawan setiap hari berhadapan dengan beragam informasi dan peristiwa, termasuk kejadian yang berpotensi menimbulkan tekanan emosional. Situasi ini semakin kompleks di era digital, ketika kecepatan publikasi dan persaingan mendapatkan perhatian pembaca menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan.

“Wartawan itu memang berpotensi rentan terhadap gangguan kesehatan mental, karena setiap hari harus menyerap berbagai informasi dan peristiwa,” ujar Meutya.

Ia mencontohkan wartawan yang bertugas meliput peristiwa berat, terutama di wilayah konflik. Setelah menjalankan penugasan semacam itu, jurnalis perlu mendapatkan kesempatan untuk memulihkan kondisi psikologis sebelum kembali bekerja.

Karena itu, Meutya mendorong perusahaan media menyediakan mekanisme pendampingan dan evaluasi setelah penugasan yang berisiko menimbulkan tekanan mental. Lingkungan kerja yang mendukung dinilai penting untuk menjaga kesehatan wartawan sekaligus keberlanjutan profesi jurnalistik.

“Wartawan yang andal tahu kapan harus berhenti. Tahu batasannya. Jadi, tidak perlu khawatir untuk mengatakan bahwa kita sedang kewalahan dan membutuhkan waktu jeda,” tegasnya.

Wartawan Dihadapkan pada Tekanan Viralitas

Selain persoalan kesehatan mental, Meutya menyoroti tantangan menjaga kualitas pemberitaan di tengah persaingan media digital. Wartawan kerap dihadapkan pada pilihan antara menyampaikan informasi yang faktual dan mengejar konten yang berpotensi viral.

Menurutnya, tekanan untuk menghasilkan berita yang menarik perhatian publik tidak boleh menggeser prinsip dasar jurnalistik. Kebenaran informasi dan kepatuhan terhadap kode etik harus tetap menjadi landasan dalam setiap proses pemberitaan.

Meutya menilai perusahaan media memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan, pendampingan, serta pedoman kerja yang jelas bagi wartawan. Langkah tersebut diperlukan agar jurnalis dapat menghadapi tuntutan industri digital tanpa mengorbankan profesionalisme maupun kesejahteraan mereka.

“Tantangannya sekarang adalah memilih antara menulis sesuatu yang faktual atau sesuatu yang membuat viral. Praktik jurnalistik harus tetap dikembalikan pada kode etik, dan perusahaan media perlu lebih bertanggung jawab dalam membimbing wartawannya di era digital,” ujarnya.

Pemerintah Perkuat Deteksi Dini Kesehatan Mental

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa pemerintah terus memperluas perhatian terhadap kesehatan mental melalui program skrining kesehatan. Pemeriksaan tersebut menjadi langkah awal untuk mengetahui skala persoalan sekaligus membantu menentukan kebutuhan penanganan.

Budi menyebutkan, skrining kesehatan mental yang dilaksanakan pemerintah pada tahun sebelumnya telah menjangkau sekitar 70 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar tujuh juta orang teridentifikasi memiliki indikasi gangguan kesehatan mental yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

“Selama ini kita menyiapkan dokter untuk penyakit fisik, tetapi tenaga kesehatan untuk menangani kesehatan mental belum dipersiapkan secara memadai di berbagai fasilitas layanan. Sekarang, setelah masalahnya mulai teridentifikasi, kita harus mempersiapkan penanganannya,” ujar Budi.

Ia mengatakan, Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan strategi penanganan kesehatan mental secara berjenjang, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit. Dengan pendekatan ini, masyarakat diharapkan dapat mengakses layanan kesehatan mental melalui fasilitas kesehatan yang lebih luas, tanpa hanya bergantung pada rumah sakit jiwa khusus.

Budi juga menekankan pentingnya deteksi dini agar risiko gangguan kesehatan dapat diketahui sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya dan melakukan pemeriksaan secara berkala.

Perhatian terhadap kesehatan mental wartawan dan penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola kerja, upaya menjaga kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan serta profesionalisme di berbagai bidang.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *