Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Mendes Yandri Ungkap BUM Desa Beromzet Rp28 Miliar, Dorong Desa Tembus Pasar Ekspor

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengungkapkan bahwa pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) menjadi salah satu upaya untuk mendorong kemandirian ekonomi desa. Sejumlah BUM Desa bahkan tercatat memiliki pendapatan tahunan hingga Rp17 miliar dan Rp28 miliar.

Yandri mengatakan, pengelolaan potensi unggulan desa secara produktif dan berkelanjutan dapat membuka peluang usaha yang lebih luas, termasuk menembus pasar ekspor. Selain meningkatkan nilai tambah produk lokal, pengembangan tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu disampaikan Yandri saat menjadi pembicara dalam program dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Kampus Universitas Tarumanagara (UNTAR), Petamburan, Jakarta Barat, Selasa (27/10/2026).

“Ada Badan Usaha Milik Desa yang pendapatan pertahunnya itu 17 Miliar, ada yang 28 Miliar, dan lain sebagainya. Yang tata kelola Badan Usaha Milik Desa ini ada Desa Ikan Nila, Desa Ekspor, dan lain sebagainya,” papar Yandri.

Ia menjelaskan, pembangunan desa menjadi bagian dari upaya pemerintah menjalankan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.

Arah kebijakan tersebut kemudian diterjemahkan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal melalui program 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia. Program ini menempatkan desa sebagai pelaku utama pembangunan yang memiliki peran penting dalam menentukan arah kemajuan bangsa.

Menurut Yandri, penguatan potensi, kemandirian, dan produktivitas desa menjadi faktor penting untuk mendorong pemerataan kesejahteraan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga berkembang dari wilayah perdesaan.

“Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo kami turunkan menjadi 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia. Karena dengan 12 Aksi Bangun Desa Bangun Indonesia, maka desa akan menentukan arah bangsa ini ke depan,” jelasnya.

Revitalisasi BUM Desa Jadi Strategi Penguatan Ekonomi

Yandri menambahkan, revitalisasi BUM Desa menjadi salah satu langkah strategis dalam pelaksanaan program 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat fungsi BUM Desa sebagai penggerak perekonomian lokal.

Melalui revitalisasi, BUM Desa diharapkan mampu mengoptimalkan potensi unggulan di wilayah masing-masing, mengembangkan unit usaha yang produktif, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia menyebutkan, ribuan BUM Desa telah berkembang dengan berbagai capaian. Potensi tersebut perlu terus diperkuat agar usaha milik desa dapat menjadi penopang kemandirian ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dari 12 Aksi Bangun Desa Bangun Desa Bangun Indonesia itu kita lakukan di antaranya revitalisasi Badan Usaha Milik Desa atau BUM Des. Yang jumlahnya ribuan, prestasinya sudah banyak,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Yandri didampingi sejumlah pejabat Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, yakni Dirjen PEID Tabrani, Kaban BPSDM Agustomi Masik, Dirjen PDP Nugroho Setijo Nagoro, Dirjen PPDT Samsul Widodo, Kaban BPI Mulyadin Malik, serta Staf Khusus Menteri Khoriul Huda.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *