Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Liga Taekwondo DKI Jakarta Seri ke-14 Diikuti 2.300 Atlet dari Lima Provinsi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Liga Taekwondo DKI Jakarta Seri ke-14 menjadi ajang persaingan sekaligus penjaringan atlet potensial. Kejuaraan yang berlangsung di GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 itu diikuti sekitar 2.300 atlet dari lima provinsi.

Ribuan peserta tersebut berasal dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung. Mereka berkompetisi dalam empat kelompok usia, yakni Pra-Kadet, Kadet, Junior, dan Senior.

Setiap kelompok usia mempertandingkan dua nomor, yaitu Kyorugi dan Poomsae. Melalui kompetisi ini, Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia DKI Jakarta berupaya menjaring bibit-bibit atlet muda yang berpotensi mewakili daerah dalam kejuaraan nasional maupun internasional.

Ketua Bidang Organisasi Pengprov Taekwondo Indonesia DKI Jakarta, Yasri Yudha Yahya, mengatakan Liga Taekwondo DKI Jakarta telah memasuki penyelenggaraan ke-14. Menurutnya, kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi atlet secara berkelanjutan.

“Saat ini adalah Liga yang ke-14. Tujuannya adalah untuk mencari bibit-bibit taekwondo DKI yang tentunya nantinya kami persiapkan untuk masuk ke dalam kejuaraan-kejuaraan nasional maupun internasional,” kata Yasri.

Ia menambahkan, peserta yang mengikuti kompetisi berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari anak-anak berusia lima tahun hingga atlet yang telah memiliki prestasi.

“Dari sinilah kami coba supaya bisa mendapatkan bibit-bibit terbaik buat taekwondo kita, yang bertanding mulai dari umur 5 tahun sampai yang berprestasi,” sambungnya.

Yasri menyebut pola pembinaan melalui kompetisi berjenjang telah menunjukkan hasil positif. Sejumlah atlet yang mengawali perjalanan dari Liga Taekwondo DKI Jakarta berhasil meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

“DKI sendiri sudah meraih emas dari SEA Games, itu atlet freestyle. Kemudian ada atlet Teologi Basam yang juga sudah berstatus internasional,” jelas Yasri.

“Dari pertama, hasilnya sudah kita lihat, bibit-bibit yang lahir dari kegiatan Liga ini sudah menghasilkan atlet berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” lanjutnya.

Selain pembinaan atlet, penyelenggara juga memperhatikan kualitas pertandingan dan objektivitas penilaian. Panitia melibatkan wasit berlisensi daerah hingga internasional untuk memastikan setiap pertandingan berlangsung sesuai ketentuan.

Delegasi Teknis Wasit, M. Fauzannuni, mengatakan pihaknya menugaskan wasit terbaik dalam kejuaraan tersebut. Hal itu dilakukan karena Liga Taekwondo DKI Jakarta juga menjadi bagian dari proses seleksi atlet di tingkat provinsi.

“Untuk wasit sendiri, di Liga ini saya tugaskan wasit-wasit yang terbaik karena ini proses seleksi di tingkat provinsi. Kesulitan pasti ada, namun kualitas penyelenggaraan acara di DKI ini luar biasa – aman dan bagus,” kata Fauzannuni.

Ia menegaskan, wasit memiliki tanggung jawab menjaga keadilan dan transparansi selama pertandingan agar atlet yang memiliki kemampuan terbaik dapat menunjukkan prestasinya.

“Tugas kami sebagai wasit adalah mengantar para atlet ke podium setinggi-tingginya. Dari situlah proses seleksi berjalan, kami pastikan penilaian adil dan transparan sehingga mereka yang berkualitas yang tampil menonjol,” tambahnya.

Kejuaraan ini juga menghadirkan cerita dari peserta usia dini. Salah satunya Ray, atlet berusia lima tahun dari klub Dojang 88, yang berhasil membawa pulang medali emas keduanya dalam kompetisi taekwondo.

Ray mengaku mengikuti pertandingan atas keinginannya sendiri dengan dukungan kedua orang tuanya. Meski masih berusia belia, ia mengaku tidak merasa takut saat bertanding.

“Tidak ada rasa takut, saya ikut atas kemauan sendiri serta didukung mama dan papa,” ungkap Ray antusias.

Melalui penyelenggaraan seri ke-14 ini, Liga Taekwondo DKI Jakarta diharapkan terus menjadi wadah pembinaan dan kompetisi bagi atlet berbagai kelompok usia, sekaligus melahirkan talenta yang mampu bersaing di level lebih tinggi.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *