Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Wamen Nezar Patria Ungkap Ancaman Siber Era Kuantum: Data Dicuri Hari Ini Bisa Dibuka Nanti

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | Harian Merdeka

Perkembangan teknologi komputasi kuantum membawa tantangan baru bagi keamanan siber. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan adanya potensi serangan yang memungkinkan data terenkripsi dicuri dan disimpan terlebih dahulu untuk kemudian dibuka ketika teknologi pemecah enkripsi semakin maju.

Pola serangan tersebut dikenal sebagai harvest now, decrypt later. Dalam skenario ini, pelaku siber tidak harus langsung mengakses isi data yang berhasil dicuri. Data yang masih terenkripsi dapat disimpan hingga tersedia teknologi yang memungkinkan enkripsi tersebut dipecahkan.

“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Menurut Nezar, ancaman tersebut menunjukkan bahwa perlindungan data tidak dapat hanya mengandalkan sistem keamanan yang dirancang berdasarkan kemampuan komputasi saat ini. Pemerintah dan pelaku industri perlu mulai mempersiapkan teknologi keamanan yang mampu menghadapi era komputasi kuantum.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penerapan post-quantum cryptography. Teknologi tersebut dikembangkan untuk memperkuat sistem kriptografi agar tetap mampu melindungi informasi ketika komputer kuantum telah memiliki kemampuan komputasi yang jauh lebih besar.

“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegas Nezar.

Ia menilai persiapan tersebut perlu dilakukan jauh sebelum teknologi kuantum mencapai kemampuan maksimal. Sebab, data yang dicuri dan disimpan saat ini masih berpotensi memiliki nilai strategis di masa mendatang.

Kondisi tersebut membuat pembangunan infrastruktur dan arsitektur digital harus memperhitungkan perkembangan teknologi yang mungkin belum sepenuhnya tersedia saat ini. Keamanan tidak lagi dapat ditempatkan sebagai tambahan setelah sebuah sistem selesai dibangun.

Nezar mengatakan Kementerian Komunikasi dan Digital juga terus mengevaluasi pendekatan pembangunan sistem digital nasional. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah security by design, yakni memasukkan aspek keamanan sejak tahap perencanaan dan perancangan sistem.

“Security harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata Nezar.

Pengalaman serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pelajaran penting bagi pemerintah. Peristiwa tersebut mendorong evaluasi terhadap arsitektur keamanan dan kesiapan sistem digital dalam menghadapi berbagai jenis serangan siber.

Di sisi lain, perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) juga membuat lanskap ancaman siber semakin kompleks. Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan siber, namun pada saat yang sama juga berpotensi digunakan oleh pihak yang ingin melakukan serangan.

Nezar bahkan menyoroti perkembangan agentic AI yang memungkinkan sistem AI menjalankan rangkaian tindakan secara lebih mandiri. Dalam konteks keamanan siber, teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk melakukan serangan tanpa sepenuhnya bergantung pada intervensi peretas manusia.

“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.

Menghadapi perubahan teknologi tersebut, Nezar menilai penguatan sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak kalah penting. Indonesia membutuhkan talenta digital yang mampu memahami keamanan siber, AI, komputasi kuantum, serta berbagai perkembangan teknologi baru.

Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta digital nasional mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030. Sementara itu, kemampuan menghasilkan talenta digital saat ini masih berada di kisaran tiga juta lebih orang.

Kesenjangan tersebut menjadi tantangan yang harus segera diatasi melalui penguatan pendidikan, pelatihan, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta perguruan tinggi.

Nezar menilai kehadiran ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi yang dikembangkan di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, penguasaan teknologi tanpa dukungan sumber daya manusia yang kuat akan membuat Indonesia semakin rentan terhadap ancaman keamanan digital.

“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana dan akan dicuri, akan dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful,” tandas Nezar.

Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi ancaman siber masa depan harus dimulai sejak sekarang. Penguatan kriptografi, penerapan security by design, pemanfaatan AI untuk pertahanan, serta pengembangan talenta digital menjadi sejumlah langkah penting untuk menjaga keamanan data Indonesia di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.(zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *