Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Megawati Minta Kader PDIP Jatim Perkuat Akar Rumput dengan Spirit Bung Karno

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyebut Jawa Timur, khususnya Surabaya, memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno atau Bung Karno.

Menurut Megawati, Surabaya menjadi salah satu kota yang memiliki rekam jejak kuat dalam perjalanan intelektual dan perjuangan Bung Karno. Bahkan, Bung Karno sendiri menyebut Surabaya sebagai “Dapurnya Nasionalisme”.

“Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur sangat penting karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Beliau sendiri menyebutkan Surabaya merupakan ‘Dapurnya Nasionalisme’,” kata Megawati dalam keterangannya, Minggu.

Hal tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya.

Megawati mengatakan, Surabaya menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan hidup Bung Karno. Di kota tersebut, Bung Karno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus berguru kepada tokoh pergerakan nasional H.O.S. Tjokroaminoto.

Dalam kondisi serba terbatas, Bung Karno tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dengan penerangan lampu teplok. Namun, dari tempat sederhana itulah Bung Karno terus mengasah pemikiran intelektual dan mematangkan gagasan perjuangannya.

Melalui berbagai buku yang dibacanya, Bung Karno berdialog secara intelektual dengan sejumlah tokoh dan pemikir dunia, mulai dari Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, Jean-Jacques Rousseau, hingga para pemikir dan pejuang kemerdekaan dari berbagai bangsa.

“Surabaya dengan demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka,” ujarnya.

Teladani Semangat Bung Karno

Presiden Kelima Republik Indonesia itu mengatakan generasi muda saat ini dapat belajar dari Bung Karno, terutama mengenai kekuatan pemikiran, imajinasi, keberanian, dan semangat perjuangan.

Menurut Megawati, Bung Karno merupakan contoh seorang anak muda yang hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki visi besar dan pandangan jauh ke depan mengenai masa depan bangsanya.

“Surabaya pada tahun 1916 sudah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, yakni Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya,” kata Megawati.

Ia pun meminta seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDIP memiliki gelora serta semangat perjuangan yang terus menyala.

Menurut Megawati, apa pun tantangan yang dihadapi, kader harus mampu memperkuat PDIP sebagai salah satu kekuatan politik penting, khususnya di Pulau Jawa.

Megawati juga meminta seluruh kader menjadikan pemikiran dan perjuangan Bung Karno sebagai bagian dari proses penggemblengan diri dalam menjalankan tugas-tugas kepartaian.

“Sebab Bung Karno sendirilah yang mengatakan bahwa Surabaya adalah Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh,” tutur Megawati.

Perkuat Akar Rumput

Di tengah pragmatisme politik saat ini, Megawati menekankan pentingnya kekuatan ide, imajinasi, strategi, dan militansi dalam perjuangan politik.

Ia mengingatkan kader PDIP agar tidak menempatkan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya. Menurutnya, kekuatan utama partai terletak pada ideologi, semangat juang, serta kedekatan dan pergerakan bersama rakyat di akar rumput.

Karena itu, melalui konsolidasi tersebut, Megawati meminta seluruh jajaran PDIP Jawa Timur semakin memperkuat basis dan kerja politik di tengah masyarakat.

“Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur,” ujarnya.

Megawati juga kembali mengingatkan pentingnya membangun emotional bonding atau ikatan emosional, baik antara kader dengan rakyat maupun di antara sesama kader partai.

Menurutnya, ikatan emosional tersebut penting untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus menjaga kedekatan PDIP dengan masyarakat.

Megawati berharap Jawa Timur kembali menjadi “Kandang Banteng”, dengan target perolehan kursi setidaknya menyamai capaian PDIP pada Pemilu 2019.

Ia juga mengingatkan bahwa militansi kader PDIP di Jawa Timur telah teruji dalam perjalanan sejarah, termasuk saat menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.

“Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur,” kata Megawati.

Melalui konsolidasi tersebut, Megawati menegaskan kembali pentingnya menjaga semangat perjuangan, memperkuat ideologi, serta membangun kedekatan dengan masyarakat sebagai kekuatan utama dalam kerja politik PDIP.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *