Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Maria Lestari Tekankan Pentingnya Teknologi Pascapanen bagi Petani Kopi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Semarang | Harian Merdeka

Anggota Komisi VII DPR RI Maria Lestari mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat dukungan teknologi pascapanen bagi petani kopi di berbagai daerah. Menurutnya, potensi kopi Indonesia yang telah dikenal di pasar internasional perlu diikuti peningkatan kualitas produksi, kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta penguasaan teknologi dari hulu hingga hilir.

“Kami berpesan agar Kementerian Perindustrian juga mempunyai teknologi pascapanen untuk para petani, khususnya yang berhubungan dengan pertanian,” kata Maria saat mengunjungi pabrik kopi Kapal Api di Semarang, Jumat (4/9/2026), bersama jajaran Kemenperin.

Maria menilai penguatan industri kopi nasional tidak cukup hanya mengandalkan besarnya potensi komoditas. Intervensi teknologi dan pembinaan terhadap petani diperlukan untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai tambah produk kopi.

Legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Barat I itu mengatakan Indonesia memiliki sejumlah sentra kopi yang produknya telah dikenal di pasar internasional. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui peningkatan kualitas sejak pembibitan, budidaya, hingga pengolahan pascapanen.

“Harus ada SDM, terus harus ada teknologi pertanian yang baik, dan tentunya kualitas produk itu harus ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Selain teknologi, Maria mendorong kolaborasi antara industri kopi dan pelaku usaha lokal, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, sinergi tersebut dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Pertumbuhan kedai kopi di berbagai daerah, kata Maria, menjadi salah satu peluang untuk memperkuat pasar kopi lokal. Produk yang ditawarkan sebagian besar berbasis kopi sehingga dapat menjadi ruang bagi produk petani daerah untuk berkembang.

“Dengan produk lokal itu bisa memberikan harapan kepada petani kopi kita. Ini berdampak lebih besar dan tentunya bisa memberikan sumber pendapatan,” katanya.

Khusus di Kalimantan Barat, Maria mengakui industri kopi belum berkembang sebesar daerah sentra kopi lainnya. Namun, pertumbuhan UMKM dan kedai kopi di wilayah tersebut dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem kopi lokal.

Karena itu, ia meminta Kemenperin meningkatkan pembinaan melalui bimbingan teknis (bimtek) dan pengembangan kompetensi SDM. Pembinaan tersebut diharapkan mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan pascapanen, hingga peningkatan mutu produk.

“Bagaimana cara pembibitannya, mengolahnya, karena tentunya itu harus bersinergi, harus bersamaan,” tegasnya.

Politikus Fraksi PDI Perjuangan tersebut menilai pengembangan industri kopi nasional membutuhkan sinergi antara pemerintah, petani, industri, dan UMKM. Penguatan teknologi pascapanen dan kualitas SDM harus berjalan beriringan agar kopi Indonesia tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha lokal.

“Potensi kopi kita sudah mendunia. Sekarang bagaimana potensi itu kita gunakan dengan baik sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan petani dan pelaku usaha lokal,” pungkas Maria.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *