Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Zulhas Siapkan Strategi Jaga Pasokan dan Harga Pangan Saat Paceklik

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan pangan dan menekan kenaikan harga kebutuhan pokok di tengah periode paceklik.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan kondisi pangan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada 2025, periode September hingga Desember ditandai kemarau basah sehingga hujan masih memungkinkan petani menanam padi dan menjaga pasokan beras di pasar.

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada tahun ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), harga beras medium pada periode Januari-September 2026 meningkat dari Rp13.857 per kilogram menjadi Rp14.060 per kilogram. Sementara itu, harga beras premium naik dari Rp15.505 per kilogram menjadi Rp15.794 per kilogram.

Kenaikan tersebut masing-masing mencapai sekitar Rp203 dan Rp289 per kilogram. Kelangkaan beras premium turut memberikan tekanan terhadap harga beras secara umum.

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah memutuskan sejumlah langkah guna memperkuat pasokan dan menjaga keterjangkauan harga pangan.

Tambah Penyaluran Beras SPHP

Pemerintah menambah penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebesar 1 juta ton hingga Desember 2026. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat pasokan di pasar, khususnya pasar tradisional.

Beras SPHP tersebut akan dijual dengan harga sekitar Rp12.000-Rp12.500 per kilogram.

“Kalau harga naik Rp100 sampai Rp200, kita respons dengan menambah supply. Kita banjiri pasar dengan beras SPHP sehingga harga bisa kita turunkan kembali,” kata Zulhas, Rabu (9/9/2026).

Selain itu, pemerintah meminta Perum Bulog mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat desil 1 sampai desil 4. Total penerima bantuan tersebut mencapai sekitar 33,2 juta orang.

Bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan selama tiga bulan, yakni Juli-September, akan dirapel sehingga masyarakat menerima 30 kilogram sekaligus.

“Ini kita minta Bulog selesaikan dalam bulan ini. Jadi masyarakat menerima sekaligus 30 kilogram. Kita ingin beras benar-benar sampai ke masyarakat,” ujarnya.

Zulhas juga menyampaikan keputusan rapat untuk menambah penyaluran bantuan pangan sebesar 1 juta ton pada Oktober, November, dan Desember 2026. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat berpendapatan rendah sekaligus menjaga konsumsi pangan tetap terjangkau.

Siapkan Pasokan Jagung untuk Peternak UMKM

Untuk mengantisipasi penurunan produksi jagung akibat kemarau, pemerintah menyiapkan pasokan jagung bagi peternak kecil berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bulog saat ini memiliki sekitar 130 ribu ton stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dari realisasi pengadaan sekitar 234 ribu ton. Pemerintah menargetkan pengadaan jagung mencapai 1 juta ton.

Dari stok tersebut, sekitar 150 ribu ton disiapkan untuk dialokasikan melalui SPHP Jagung bagi peternak UMKM, bukan industri peternakan skala besar.

“Kita ingin peternak-peternak UMKM tidak terkena dampak kenaikan harga jagung. Musim kemarau membuat produksi turun dan harga naik, sehingga supply untuk peternak harus kita jaga,” jelasnya.

Manfaatkan Beras Penurunan Mutu

Pemerintah juga merespons kenaikan harga tepung beras dengan memanfaatkan stok beras yang telah berusia lebih dari 12 bulan dan mengalami penurunan mutu, tetapi masih sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku tepung beras.

Kementerian Perindustrian menghitung kebutuhan beras untuk bahan baku industri tepung beras mencapai 380.000 ton. Pemerintah memutuskan beras tersebut dapat dilelang dengan harga minimal Rp11.000 per kilogram untuk kemudian diolah oleh industri menjadi tepung beras.

“Beras yang kurang mutu ini bisa dibeli oleh pabrik tepung untuk dijadikan tepung. Jadi kita harapkan kenaikan harga tepung beras juga bisa kita tekan,” pungkas Zulhas.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *