Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Mahfud MD Nilai Kepala BGN Gagal Atasi Keracunan MBG, Korban Tembus 51 Ribu

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka 

Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono belum berhasil mengatasi persoalan keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mahfud menyoroti jumlah korban keracunan yang terus meningkat sejak program tersebut dijalankan berdasarkan data yang diterimanya, pada tahun pertama pelaksanaan MBG terdapat 12.658 orang yang terdampak keracunan.

Namun, hingga awal September 2026, jumlah anak yang terdampak keracunan disebut telah mencapai sekitar 51.000 orang lonjakan tersebut membuat Mahfud menilai persoalan keracunan dalam program MBG bukan lagi sekadar insiden sesaat.

Menurut dia, peningkatan jumlah korban menunjukkan adanya persoalan yang berlangsung secara berkelanjutan dan membutuhkan pembenahan serius.

“Sudaryono menurut saya bagus. Kepala MBG-nya bagus. Tetapi, dia gagal sampai saat ini. Kenapa? Itu keracunan jauh lebih banyak dari yang dulu,” kata Mahfud MD dalam siniar YouTube, Minggu (13/9/2026).

Mahfud menyebut Sudaryono belum berhasil menjalankan tugas utama yang dibebankan kepadanya, yakni memperbaiki pelaksanaan program MBG agar berjalan lebih baik dan mampu mencegah terulangnya kasus keracunan.

Meski demikian, Mahfud menegaskan persoalan tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada sosok Sudaryono.

Menurutnya, kasus yang terus berulang perlu dilihat sebagai persoalan sistem dalam pelaksanaan MBG. Artinya, evaluasi tidak cukup hanya diarahkan kepada pimpinan BGN, tetapi juga harus menyentuh mekanisme pengadaan bahan pangan, pengolahan makanan, standar keamanan pangan, distribusi, hingga pengawasan di lapangan.

Apalagi, program MBG menyasar anak-anak dan kelompok masyarakat lainnya kesalahan dalam memastikan keamanan makanan dapat berujung pada dampak kesehatan yang luas. Karena itu, pemerintah dinilai perlu melakukan evaluasi menyeluruh.

Keberhasilan MBG tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang berhasil disalurkan kepada masyarakat, tetapi juga dari seberapa aman makanan tersebut dikonsumsi.

Jika angka korban terus meningkat, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memperluas cakupan MBG, melainkan bagaimana memastikan program tersebut tidak justru menimbulkan masalah baru bagi penerima manfaat.

Kritik Mahfud tersebut menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan BGN. Program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak harus dibarengi sistem pengawasan yang kuat agar tujuan memberikan makanan bergizi tidak berakhir dengan munculnya kasus keracunan secara berulang.(Agus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *