Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Industri Otomotif Eropa Terancam Produk China, Italia Dorong Tarif hingga 80 Persen

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Industri otomotif Eropa mulai menghadapi tekanan serius akibat derasnya arus kendaraan dan komponen asal China kekhawatiran tersebut bahkan mendorong organisasi pemasok otomotif Italia, Anfia, meminta Uni Eropa memperketat perlindungan industri dengan mengenakan tarif hingga 80 persen terhadap produk otomotif China yang masuk melewati batas tertentu.

Presiden Anfia Roberto Vavassori mengatakan produk otomotif China tetap seharusnya memiliki akses ke pasar Eropa. Namun, akses tersebut perlu dibatasi agar tidak menggerus industri otomotif lokal.

Menurutnya, kendaraan asal China dapat masuk tanpa tarif tambahan selama jumlahnya tidak melebihi 8 persen dari total kendaraan yang terdaftar di Eropa. Jika angka tersebut terlampaui, tarif yang jauh lebih tinggi perlu diberlakukan.

“Kami sangat menghormati pencapaian industri China, tetapi rasa hormat itu kini telah berubah menjadi ketakutan. Eropa tidak boleh kehilangan industri yang sangat penting bagi otonomi strategisnya,” ujar Roberto, dikutip Reuters.

Bukan Hanya Mobil, Komponen China Juga Jadi Sorotan roberto menilai kebijakan perlindungan Eropa tidak boleh hanya menyasar kendaraan utuh. Komponen otomotif asal China juga harus mendapatkan perhatian serius.

Pasalnya, sekitar 80 persen bagian sebuah kendaraan berasal dari rantai pasok suku cadang. Jika komponen impor China terus membanjiri Eropa, tekanan terhadap industri pemasok lokal dinilai akan semakin berat.

Saat ini, Uni Eropa telah menerapkan bea masuk tambahan terhadap mobil listrik buatan China, di luar tarif impor kendaraan sebesar 10 persen.

Dengan tambahan tersebut, total beban tarif mobil listrik China berada di kisaran 18 persen hingga 45 persen, tergantung produsennya. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 2024 dan diterapkan selama lima tahun.

Pabrik China di Eropa Dipertanyakan roberto juga menyoroti semakin banyaknya produsen mobil China yang membangun fasilitas produksi di Eropa, termasuk perusahaan seperti BYD dan Chery.

Menurut dia, keberadaan pabrik tersebut belum otomatis berarti industri otomotif Eropa memperoleh manfaat besar.

Ia memperingatkan fasilitas produksi tersebut berpotensi hanya menjadi “pabrik obeng”, apabila sebagian besar komponen dan bahan baku tetap didatangkan dari China atau negara berbiaya rendah di sekitar Eropa.

Artinya, kendaraan memang dirakit di Eropa, tetapi nilai tambah dan rantai pasok utamanya masih berada di luar kawasan tersebut.

Roberto menilai perusahaan-perusahaan China perlu meningkatkan penggunaan bahan baku dan komponen lokal agar keberadaan mereka benar-benar memperkuat ekosistem industri otomotif Eropa.

Pemasok Italia Terancam Kehilangan Pasar dampak persaingan tersebut juga mulai dirasakan pemasok otomotif Italia roberto mengungkapkan, pemasok otomotif Italia mengekspor produk senilai 4,9 miliar euro atau sekitar Rp91 triliun ke Jerman pada tahun lalu.

Sekitar seperlima dari nilai ekspor tersebut ditujukan kepada Volkswagen. Namun, ekspor diperkirakan kembali mengalami tekanan tahun ini dan berpotensi turun sekitar 10 persen, setelah sebelumnya merosot 4,6 persen pada paruh pertama tahun berjalan.

Penurunan tersebut salah satunya berkaitan dengan restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan Volkswagen Tanpa Proteksi, Ekspor Bisa Anjlok 50 Persen kekhawatiran terbesar Anfia adalah dampak jangka panjang jika Uni Eropa tidak mengambil langkah perlindungan lebih agresif.

Roberto memperkirakan ekspor pemasok otomotif Italia dapat anjlok 40-50 persen pada 2028 apabila tidak ada tambahan perlindungan terhadap produk otomotif asal China. “Itu memang akan menjadi akhir dari segalanya,” ujarnya.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa persaingan otomotif antara Eropa dan China bukan lagi sekadar perebutan pangsa pasar kendaraan listrik.(Agus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *