Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.731 per Dolar AS, Diproyeksi Masih Tertekan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.731 per dolar AS pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pagi. Mata uang Garuda melemah 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,02 persen, dolar Singapura melemah 0,06 persen, yen Jepang terkoreksi 0,15 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,46 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,12 persen.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia tercatat menguat. Peso Filipina terapresiasi 0,11 persen, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,25 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, seluruh mata uang utama negara maju yang dipantau kompak melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,07 persen, poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, dolar Australia terkoreksi 0,14 persen, dolar Kanada turun 0,11 persen, dan franc Swiss melemah 0,09 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS, di tengah imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia yang masih terus naik, memicu antisipasi investor akan sikap hawkish The Fed pada FOMC malam ini,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk keputusan Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *