Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Komisi I DPR Soroti Penembakan Sopir di Papua yang Ancam Keselamatan Warga Sipil

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyoroti kasus penembakan yang menewaskan Aris Sanda, seorang sopir asal Toraja, Sulawesi Selatan, di jalur Wamena-Mbua, Papua Pegunungan. Ia menilai insiden tersebut menunjukkan masih adanya ancaman terhadap keselamatan warga sipil di wilayah konflik Papua.

“Apa pun tuduhan terhadap korban, tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan pembunuhan di luar proses hukum. Keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama,” kata Sukamta dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Aris Sanda dilaporkan dihentikan dan dibawa oleh kelompok bersenjata sebelum ditemukan meninggal dunia bersama kendaraannya yang terbakar.

Kelompok yang mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Kelompok itu juga menuduh Aris sebagai agen intelijen yang menyamar sebagai sopir.

Namun, tuduhan tersebut merupakan klaim pihak yang mengaku bertanggung jawab dan masih perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan serta penegakan hukum.

Menurut Sukamta, kasus tersebut menunjukkan masyarakat sipil masih menghadapi risiko keamanan di wilayah konflik Papua. Ancaman itu, kata dia, juga dapat berdampak terhadap warga yang bekerja sebagai sopir serta melayani kebutuhan transportasi dan distribusi logistik masyarakat.

Sukamta meminta aparat keamanan melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap kronologi kejadian, pelaku, dan motif di balik penembakan tersebut. Ia juga meminta pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum.

“Jangan sampai warga sipil menjadi korban karena tuduhan sepihak. Negara harus memastikan bahwa siapa pun yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil dapat diproses sesuai hukum,” tegasnya.

Ia juga meminta pemerintah meningkatkan deteksi dini dan perlindungan terhadap masyarakat sipil, terutama di jalur transportasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Jangan hanya bergerak setelah terjadi penembakan. Pengamanan harus berbasis pencegahan, dengan memperkuat intelijen teritorial, deteksi dini, dan perlindungan masyarakat di titik-titik rawan,” kata Sukamta.

Sukamta menilai ancaman terhadap sopir, pengemudi angkutan, pekerja, dan masyarakat yang melintas di wilayah rawan dapat mengganggu aktivitas ekonomi serta pelayanan dasar di Papua.

“Jangan sampai masyarakat takut bekerja, takut bepergian, atau takut melayani kebutuhan masyarakat lainnya. Negara harus hadir memberikan rasa aman,” ujarnya.

Selain penegakan hukum, Sukamta mendorong pendekatan keamanan yang tetap menempatkan perlindungan masyarakat dan pembangunan kesejahteraan sebagai bagian penting dalam penanganan persoalan Papua.

“Keamanan dan kesejahteraan tidak bisa dipisahkan. Masyarakat Papua membutuhkan ruang hidup yang aman agar aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik dapat berjalan,” tuturnya.

Kronologi Menurut TNI

Sebelumnya, Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna dalam siaran pers di Jayapura, Rabu (16/9/2026), mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (15/9) sekitar pukul 06.00 WIT.

Menurut Wirya, kejadian berlangsung di sekitar pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Aris Sanda dilaporkan menjadi korban kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama hingga meninggal dunia.

“Berdasarkan informasi awal, rombongan kendaraan yang melintas dari Wamena menuju Mbua dihentikan sekelompok orang bersenjata. Dan kelompok tersebut kemudian memeriksa pengemudi dan penumpang. Setelah pemeriksaan, para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena, sedangkan Aris Sanda dibawa menuju kawasan Danau Habema,” ujarnya.

Wirya mengatakan setelah menerima laporan, pihaknya melakukan pencarian dan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Tim kemudian menemukan satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudinya.

“Kami bakal akan terus melakukan upaya penanganan terhadap kelompok bersenjata yang terlibat, termasuk pengejaran dan mendukung proses penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Menurutnya, Aris sedang menjalankan pekerjaannya dengan membawa logistik sekaligus melayani kebutuhan transportasi masyarakat menuju wilayah pedalaman.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *