Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Sinergikan KDMP dengan Makan Bergizi Gratis, Menko Zulhas Sebut Petani Punya Kepastian Pasar

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan sinergi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan kepastian pasar bagi hasil budi daya masyarakat melalui penyerapan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Model tersebut telah diterapkan di KDMP Kamolan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang memasok lele bersih kepada empat SPPG untuk memenuhi kebutuhan sumber protein dalam Program MBG.

“Inilah yang kita bangun, sebuah closed-loop economy. Warga memiliki kepastian pasar, koperasi menjadi penggerak ekonomi desa, dan anak-anak memperoleh sumber protein berkualitas melalui Program MBG,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, integrasi tersebut membentuk ekosistem ekonomi desa dari hulu hingga hilir. Masyarakat menjalankan kegiatan produksi, koperasi mengelola usaha, sedangkan SPPG menyerap hasil budi daya secara berkelanjutan.

Model itu ditinjau Menko Pangan bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Kelautan dan Perikanan, anggota DPR RI, serta Bupati Blora di unit budi daya bioflok KDMP Kamolan.

KDMP Kamolan memasok lele bersih kepada empat SPPG dengan harga Rp25.000 per kilogram (kg). Setiap SPPG rata-rata memesan sekitar 250 kg lele dalam sekali pengambilan.

Menurut Zulhas, pola penyerapan tersebut memberikan kepastian permintaan sehingga pembudidaya dapat merencanakan jumlah produksi dan jadwal panen sesuai kebutuhan SPPG.

Unit budi daya bioflok Kamolan mulai beroperasi pada Februari 2026. Pada siklus pertama, unit usaha tersebut menghasilkan sekitar 1,04 ton lele.

Pada siklus kedua, pengelola telah melakukan panen parsial sekitar 605 kilogram.

Saat ini, sebanyak 22 dari 24 kolam telah terisi dengan total penebaran sekitar 92.000 benih lele. Penebaran benih dilakukan secara bertahap agar waktu panen dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasokan empat SPPG.

Menko Pangan menilai keterhubungan antara produksi masyarakat, pengelolaan usaha oleh koperasi, dan penyerapan hasil oleh SPPG dapat menggerakkan kegiatan ekonomi desa sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi.

“Integrasi KDMP dengan MBG menjadi bukti bahwa program pemerintah kini terhubung dari hulu hingga hilir. Produksi masyarakat terserap, ekonomi desa bergerak, dan manfaatnya kembali kepada masyarakat melalui penyediaan pangan bergizi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Zulhas.

Integrasi KDMP dan MBG juga diharapkan memperkuat peran koperasi sebagai pengelola usaha produktif serta membantu masyarakat memperoleh akses pasar yang berkelanjutan.

Secara nasional, pemerintah menargetkan produksi ikan budi daya pada 2026 mencapai 7,15 juta ton.

Untuk mendukung target tersebut, pemerintah mengembangkan Program Budi Daya Tematik Bioflok guna meningkatkan produksi ikan, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, serta memasok kebutuhan protein bagi Program MBG. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *