Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Antisipasi Kebakaran TPA Selama Kemarau Ekstrem, Kapolda dan Gubernur Banten Siagakan Pos Terpadu

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Serang | Harian Merdeka

Kepolisian Daerah (Polda) Banten bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten membentuk Satuan Tugas (Satgas) Terpadu untuk menjaga sejumlah titik rawan dari potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama puncak musim kemarau.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki di Serang, Senin, mengatakan penempatan satgas gabungan ini berfokus pada pengamanan di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang tersebar di wilayah Banten, seperti TPA Jatiwaringin, Bagendung, dan Cilowong.

“Semua kita siapkan di pos terpadu, baik personel maupun sarana prasarananya seperti mobil pemadam kebakaran, ambulans, hingga dapur lapangan yang siap digunakan setiap saat manakala terjadi kebakaran,” kata Hengki usai memimpin Apel Kesiapsiagaan Tanggap Bencana Karhutla.

Pembentukan pos terpadu yang melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah daerah ini diinisiasi sebagai langkah deteksi dini, sekaligus mencegah adanya aktivitas pembakaran secara sengaja oleh warga di area rawan.

Lebih lanjut Kapolda Banten menegaskan pihaknya juga menggencarkan patroli dan edukasi agar masyarakat tidak sembarangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Bagi pihak yang sengaja melakukan pembakaran, sesuai ketentuan undang-undang lingkungan hidup, ada ancaman sanksi pidana di atas lima tahun,” ucapnya.

Sementara itu Gubernur Banten Andra Soni mengapresiasi langkah Kapolda Banten dalam membentuk satgas yang siaga di masing-masing TPA. Ia menyoroti tingginya kerawanan di kawasan pembuangan akhir tersebut akibat tumpukan sampah.

“Di TPA sudah ada gas metana yang tertumpuk bertahun-tahun dan ini perlu diantisipasi. Tidak boleh ada percikan api, tidak boleh ada kegiatan membakar sampah, dan ini memerlukan koordinasi bersama,” ujarnya.

Selain mengantisipasi karhutla, Andra Soni menambahkan Pemprov Banten saat ini juga tengah memetakan wilayah terdampak kekeringan ekstrem yang diprediksi BMKG mencapai puncaknya pada bulan Agustus, guna memastikan bantuan air bersih dapat disalurkan dengan cepat kepada masyarakat yang membutuhkan. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *