Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Satu Dekade IDDC, Kemendag Dorong Desain Jadi Pengungkit Daya Saing Produk Indonesia

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka 

Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memperkuat peran desain sebagai salah satu instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui keberadaan Indonesia Design Development Center (IDDC) yang selama satu dekade menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, desainer, akademisi, asosiasi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan produk berorientasi ekspor.

Satu dekade perjalanan IDDC diperingati melalui acara bertajuk “DASA DAYA: Desain Menguatkan Usaha, Menggerakkan Indonesia” yang digelar di Gedung IDDC, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan desain tidak semata-mata berkaitan dengan aspek estetika sebuah produk.

Menurutnya, desain memiliki posisi strategis dalam meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Desain bukan sekadar urusan estetika, melainkan instrumen strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk dan memajukan perekonomian. Intervensi desain harus memberi dampak ganda yang secara mikro mendorong pelaku usaha untuk naik kelas dan secara makro menggerakkan ekonomi Indonesia,” ujar Puntodewi.

Selama satu dekade, IDDC telah menjalankan berbagai program pengembangan desain bagi pelaku usaha.

Di antaranya pendampingan desain produk secara langsung melalui Designers Dispatch Service (DDS) dan Klinik Desain, serta fasilitasi ke kompetisi desain internasional Good Design Indonesia (GDI) di Jepang.

Desain Jadi Faktor Pembeda Produk Ekspor

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, menegaskan bahwa desain merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.

Menurut Deden, daya saing produk tidak hanya ditentukan oleh efisiensi produksi, rantai pasok, maupun logistik.

Kemampuan menghasilkan produk dengan nilai tambah juga menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan di pasar global.

Dalam konteks tersebut, desain dapat menjadi faktor pembeda yang membuat produk Indonesia memiliki nilai tambah sekaligus lebih menarik bagi pasar internasional.

“Ada beberapa parameter yang menentukan daya saing ekspor kita, salah satunya adalah desain. Desain merupakan salah satu faktor yang sangat penting, terutama untuk beberapa produk seperti kriya, fesyen, hingga alas kaki. Sebab, desain menjadi salah satu komponen utama yang menjadi acuan dari buyer sebelum berkomitmen untuk transaksi,” kata Deden.

Ia juga menilai kebutuhan terhadap pengembangan desain semakin penting seiring munculnya berbagai kebijakan dan persyaratan keberlanjutan atau sustainability di sejumlah negara tujuan ekspor, termasuk pasar Uni Eropa.

Deden mengatakan, aspek keberlanjutan bahkan perlu diperhatikan sejak tahap awal pengembangan sebuah produk.

“Sekitar 80 persen dampak lingkungan dan keberlanjutan suatu produk ditentukan sejak tahap desain. Pemilihan material hingga aspek toksisitas menjadi bagian yang menentukan keberlanjutan produk ketika memasuki pasar ekspor, contohnya ke Eropa,” ujarnya.

IDDC Didorong Jadi Ruang Kolaborasi

Deden mengajak pelaku usaha dan desainer untuk semakin mengoptimalkan keberadaan IDDC sebagai ruang berbagi pengetahuan sekaligus tempat berkolaborasi dalam mengembangkan produk yang memiliki orientasi ekspor.

Ia juga mendorong perguruan tinggi, kementerian dan lembaga, asosiasi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk terus membangun kolaborasi bersama IDDC.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar manfaat IDDC semakin luas dirasakan pelaku usaha dan desainer.

Di sisi lain, kerja sama lintas pemangku kepentingan juga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan produk Indonesia dalam menghadapi perkembangan kebijakan serta persyaratan pasar global.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Yudi Darma, turut hadir dalam peringatan satu dekade IDDC.

Yudi berharap momentum satu dekade tersebut dapat semakin memperkuat kolaborasi IDDC dengan berbagai mitra.

Pendampingan IDDC Buka Jalan ke Pasar Internasional

Dampak program IDDC juga dirasakan pelaku usaha yang mendapatkan layanan pengembangan desain produk.

Salah satunya PT Tartaruga Industri Indonesia. Ahmad, perwakilan perusahaan tersebut, mengatakan pendampingan IDDC dalam pengembangan desain kemasan telah membantu perusahaan membuka peluang mengikuti berbagai pameran berskala nasional dan internasional.

Dari keikutsertaan dalam berbagai kegiatan tersebut, perusahaan kemudian mendapatkan peluang untuk mengembangkan pasar hingga ke luar negeri.

“Sejak mendapatkan pendampingan desain dari IDDC, kami mendapat kesempatan mengikuti berbagai kegiatan seperti Trade Expo Indonesia (TEI), Malaysia International Halal Showcase (MIHAS), dan Food & Hotel Asia-Food & Beverage (FHAFnB) di Singapura. Dari sana, kami mulai ekspor ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Kerja sama kami dengan IDDC sangat berdampak dan kami berharap dapat terus dikembangkan,” ujar Ahmad.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desain tidak berhenti pada perubahan tampilan produk atau kemasan.

Pendampingan desain juga dapat menjadi bagian dari proses penguatan kesiapan usaha untuk masuk ke berbagai forum promosi dan pasar internasional.

Dengan memasuki usia satu dekade, IDDC diharapkan terus menjadi simpul kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, desainer, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menghasilkan produk Indonesia yang semakin kompetitif, bernilai tambah, serta mampu merespons tuntutan pasar global, termasuk aspek keberlanjutan.(Agus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *