Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

PDU Baru TNI Terinspirasi Beskap, Panglima Ungkap Makna di Balik Perubahan Seragam

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Penampilan sejumlah perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada peringatan HUT ke-81 TNI di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026), terlihat berbeda.

Perubahan tersebut tampak pada pakaian dinas upacara (PDU) yang dikenakan perwakilan tiga matra. Untuk pertama kalinya, TNI menampilkan desain PDU 1 Trimatra dengan model baru dalam upacara tersebut.

PDU baru itu dikenakan Pangdivif 1 Kostrad Mayjen TNI Ahmad Fikri Musmar, Dankodaeral XIII Laksda TNI Sumarji Bimoaji, dan Pangkodau I Marsda TNI Erwin Sugiandi.

Perubahan paling mencolok terlihat pada bagian kerah. Jika PDU TNI AD dan TNI AU sebelumnya menggunakan model kerah tidur seperti jas, desain terbaru menggunakan kerah berdiri yang melingkari leher.

Bagian kerah tersebut dihiasi bidang berwarna merah dengan garis emas. Ornamen garis emas juga terlihat pada bagian ujung lengan. Sementara itu, warna dasar seragam masing-masing matra tetap dipertahankan, yakni hijau tua untuk TNI AD, putih untuk TNI AL, dan biru tua untuk TNI AU.

Terinspirasi Busana Tradisional

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan perubahan desain PDU bukan semata-mata untuk memperbarui tampilan seragam. Desain baru tersebut mengambil inspirasi dari busana tradisional Indonesia, khususnya beskap.

“Filosofinya, jadi kita kebudayaan. Ini kan beskap ya, kearifan lokal, supaya kita bisa mandirilah secara pakaian. Punya ciri khas bahwa pakaian yang digunakan oleh TNI, secara budaya Indonesia mewakili, beskap kan, beskap,” kata Agus seusai upacara HUT TNI, Senin.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menyebut PDU 1 Trimatra terbaru merupakan rancangan yang dikembangkan secara internal di lingkungan TNI. Desain tersebut ditujukan untuk memperkuat identitas, kehormatan, dan tradisi TNI.

Kemenhan menjelaskan rancangan PDU baru memadukan karakter militer modern dengan filosofi budaya Nusantara. Desainnya mengadaptasi potongan seremonial militer dengan inspirasi dari beskap modern.

“Seragam PDU 1 Trimatra terbaru menggabungkan ketegasan karakter militer modern dengan kedalaman filosofi budaya kepulauan,” tulis Kemenhan dalam situs resminya.

Menurut Kemenhan, desain tersebut juga mencerminkan nilai-nilai budaya nasional sebagai identitas seluruh TNI.

Sarat Makna Filosofis

Kemenhan menjelaskan sejumlah bagian pada PDU baru memiliki makna filosofis. Kerah merah disebut menjadi simbol kekuatan dan ketangguhan sekaligus penanda bagi perwira dan komandan.

Sementara itu, detail rantai atau ranjau pada bagian kerah dimaknai sebagai simbol ikatan pengabdian yang kuat dan tidak terbatas. Simbol tersebut menggambarkan persatuan TNI AD, TNI AL, dan TNI AU dalam menjaga kedaulatan Indonesia.

Adapun sulaman beras pada bagian manset dimaknai sebagai simbol dedikasi prajurit TNI yang menjunjung kerendahan hati, tetapi tetap teguh menjalankan tugas sebagai pelindung dan penjaga kemakmuran rakyat.

Meski desainnya berubah, identitas masing-masing matra tetap dipertahankan melalui warna dasar seragam dan berbagai atribut kepangkatan, jabatan, kualifikasi, serta tanda kehormatan.

Pengamat Ingatkan Efisiensi

Pengamat militer Aris Santoso menilai perubahan seragam TNI tidak dapat dilepaskan dari persoalan identitas dan kepemimpinan di tubuh institusi militer.

Menurut Aris, pergantian seragam dapat menjadi salah satu cara seorang pimpinan meninggalkan jejak dalam organisasi yang dipimpinnya.

“Setiap pimpinan TNI selalu ingin meninggalkan jejak. Salah satunya dengan cara mengganti seragam anggota TNI. Dengan demikian pimpinan TNI yang sekarang akan tercatat dalam sejarah,” kata Aris kepada Kompas.com, Senin.

“Subjektivitas pimpinan TNI itu sangat menonjol dari waktu ke waktu,” ujar dia.

Aris mengingatkan bahwa perubahan seragam bukan hal baru dalam sejarah TNI. Ia mencontohkan perubahan seragam anggota Kopassus ketika Prabowo Subianto memimpin satuan tersebut, termasuk model tongkat komando para komandan.

Namun, menurut Aris, sejumlah perubahan itu kemudian dibatalkan oleh pimpinan berikutnya.

Aris mengakui seragam memiliki peran penting karena berkaitan dengan tradisi dan identitas satuan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar perubahan desain tidak dilakukan terlalu sering karena dapat berdampak terhadap efisiensi anggaran.

“Namun sebaiknya jangan sering-sering ganti. Karena itu salah satu bentuk pemborosan. Karena seragam yang lama hanya disimpan. Padahal masih layak pakai. Kemudian disediakan anggaran untuk produksi seragam baru,” ujar Aris.

DPR Nilai Bisa Perkuat Identitas TNI

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono memandang perubahan PDU dapat menjadi bagian dari pembaruan organisasi sekaligus penguatan identitas TNI.

Menurut Dave, perubahan atribut tersebut tentu memiliki pertimbangan dari sisi kebutuhan kedinasan, identitas, tradisi, dan perkembangan organisasi.

“Perubahan tersebut tentu memiliki pertimbangan tersendiri, baik dari sisi kebutuhan kedinasan, identitas, tradisi maupun perkembangan organisasi,” kata Dave kepada Kompas.com, Senin.

Komisi I DPR, kata Dave, akan mengikuti penjelasan dan perkembangan terkait perubahan atribut PDU tersebut.

Jika perubahan PDU merupakan bagian dari transformasi organisasi, Dave menilai langkah tersebut dapat dipahami selama tetap mencerminkan karakter, kehormatan, tradisi, dan profesionalisme TNI.

“Baik penataan organisasi maupun pembaruan atribut merupakan bagian dari upaya memperkuat pertahanan nasional,” ujar Dave.

Ia menekankan bahwa pembaruan atribut pada akhirnya harus tetap dikaitkan dengan kesiapan dan profesionalisme TNI dalam menjalankan tugas pertahanan.

“Komisi I DPR RI mendukung langkah-langkah yang diarahkan untuk meningkatkan kesiapan, profesionalisme, dan kemampuan TNI dalam menjalankan tugas menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata politikus Partai Golkar itu.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *