Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Wamenkeu Juda Agung Tekankan Tata Kelola dan Investasi untuk Jaga Dana Haji

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mendorong penguatan tata kelola, strategi investasi, dan inovasi dalam pengelolaan keuangan haji. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan dana sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan jemaah saat ini dan generasi mendatang.

Pesan itu disampaikan Juda Agung dalam The 8th International Hajj Fund Forum 2026 pada Kamis (15/10/2026). Dalam forum tersebut, ia mengusulkan pembentukan Agenda Keberlanjutan Keuangan Haji yang terkoordinasi, dilengkapi pembagian tanggung jawab yang jelas, target terukur, serta evaluasi berkala.

Menurut Juda, tata kelola, investasi, dan inovasi merupakan tiga pilar yang saling berkaitan dalam menjaga amanah pengelolaan dana haji. Tata kelola diperlukan untuk memastikan akuntabilitas, investasi mendukung keberlanjutan dana, sedangkan inovasi dapat meningkatkan kualitas layanan dan membuka peluang ekonomi produktif.

“Tata kelola menjaga amanah. Investasi menjaga keberlanjutan dana. Inovasi menghubungkan sumber daya keuangan dengan layanan yang lebih baik dan peluang produktif,” ujar Wamenkeu.

Dari sisi tata kelola, pengelolaan dana haji perlu memperhatikan keseimbangan antara keterjangkauan biaya bagi jemaah yang berangkat saat ini dan kemampuan keuangan untuk memenuhi kebutuhan jemaah pada masa mendatang.

Upaya tersebut mencakup penguatan manajemen risiko, peningkatan transparansi, serta pengaturan distribusi Nilai Manfaat dengan mempertimbangkan kewajiban keuangan jangka panjang.

Pada aspek investasi, Juda mendorong penerapan strategi yang mengutamakan likuiditas dan pendapatan stabil, sekaligus memperhatikan pertumbuhan dalam jangka panjang. Seluruh strategi tersebut harus tetap berlandaskan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap ketentuan syariah.

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisi dalam ekosistem ekonomi haji dan umrah global. Salah satu langkah yang didorong ialah pengembangan Indonesia Hajj Investment Platform untuk mengidentifikasi peluang investasi produktif.

Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan berbagai pihak sehingga pengelolaan dana haji tidak hanya berorientasi pada hasil investasi, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas.

Sementara itu, inovasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan dana haji. Pemanfaatan sistem digital, analitik data, dan kecerdasan buatan diharapkan mampu memperkuat transparansi serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.

Inovasi juga berpotensi memperluas keterlibatan pelaku usaha Indonesia dalam memenuhi kebutuhan jemaah di Arab Saudi. Sejumlah sektor yang dapat dikembangkan meliputi pangan, kesehatan, akomodasi, dan layanan digital.

Juda menegaskan, keberhasilan pengelolaan keuangan haji tidak cukup dinilai berdasarkan besarnya dana yang dikelola atau tingkat imbal hasil investasi dalam satu tahun tertentu. Ukuran keberhasilan yang lebih mendasar adalah kemampuan menjaga dana agar tetap mampu memenuhi kewajiban kepada jemaah lintas generasi.

“Keberhasilan kita tidak semata-mata diukur dari besarnya dana atau imbal hasil investasi yang dicapai pada tahun tertentu, tetapi dari kemampuan kita memenuhi tanggung jawab kepada jemaah saat ini dan generasi yang akan datang,” pungkas Wamenkeu.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *