Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Wamenkeu Juda Agung Optimistis Ekonomi RI Tetap Tumbuh Kuat, Fiskal Terjaga di Tengah Gejolak Global

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyampaikan optimisme terhadap kinerja perekonomian Indonesia yang dinilai masih memiliki daya tahan kuat di tengah situasi global yang penuh tantangan. Ia meyakini pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 tetap berada pada jalur positif, sementara pengelolaan fiskal terus dijaga secara kredibel dan hati-hati.

Juda memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih mampu bertahan di atas level 5 persen. Meski mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya, kondisi ekonomi nasional dinilai tetap menunjukkan tren penguatan.

“Pertumbuhan pada triwulan II memang sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi aktivitas ekonomi masih berjalan positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) menunjukkan ekspansi, sementara peningkatan impor barang modal dan bahan baku mencerminkan adanya aktivitas produksi serta investasi yang terus berkembang,” ujar Juda.

Pemerintah pun tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 5,6 hingga 6 persen dapat tercapai. Sejumlah kebijakan stimulus pada semester II, termasuk dukungan terhadap sektor manufaktur dan otomotif, diharapkan mampu memperkuat laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, Juda menilai daya beli masyarakat masih terjaga. Ia menjelaskan, kondisi deflasi pada Juli 2026 tidak menunjukkan adanya pelemahan konsumsi, melainkan lebih dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti bawang merah dan emas.

“Deflasi tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor harga komoditas tertentu, bukan karena permintaan masyarakat melemah. Hal ini juga terlihat dari indikator PMI yang masih mengalami peningkatan,” jelasnya.

Dari sisi fiskal, Juda menyebut kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dalam keadaan sehat. Ia mengatakan peningkatan penerimaan negara memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga kualitas belanja sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, penerimaan negara tercatat meningkat sekitar 24 persen, sementara belanja negara juga mengalami pertumbuhan sekitar 17 persen. Di sisi lain, defisit APBN hingga Juni 2026 masih berada pada level 0,76 persen, yang menunjukkan pengelolaan fiskal berjalan secara terukur.

“Fiskal kita tetap prudent dan terkelola dengan baik. Kondisi ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai program tanpa mengganggu stabilitas ekonomi,” kata Juda.

Ia menambahkan, disiplin pengelolaan fiskal turut meningkatkan kepercayaan investor global terhadap Indonesia. Hal tersebut tercermin dari tetap terjaganya peringkat kredit nasional serta tingginya minat investor terhadap instrumen pembiayaan pemerintah.

Juda menegaskan, kemampuan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan stabilitas menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat kepercayaan dunia internasional.

“Indonesia mampu tumbuh dengan tetap menjaga stabilitas. Inflasi terkendali, fiskal sehat, dan ekonomi tetap tumbuh di atas 5 persen,” ujarnya.

Menjelang penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2027, Juda memastikan pemerintah akan tetap menjadikan APBN sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesinambungan fiskal.

Menurutnya, kebijakan fiskal tahun 2027 akan tetap diarahkan secara ekspansif, namun dilakukan dengan perhitungan yang matang agar defisit tetap terkendali.

“Pada 2027, pemerintah tetap melakukan ekspansi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi dengan pengelolaan yang terukur,” pungkas Juda Agung.(Fj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *