Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

IHSG Anjlok, Pemerintah Harus Pulihkan Kepercayaan Investor dan Benahi Fundamental Pasar Modal Indonesia

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Fahmi Ubaidillah Ketua Bidang Investasi dan Hilirisasi Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) periode 2026–2029, Fahmi Ubaidillah, menyoroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu penghentian sementara perdagangan saham (trading halt).

Situasi ini harus menjadi momentum bagi pemerintah dan otoritas pasar modal untuk melakukan pembenahan menyeluruh demi menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Anjloknya IHSG hari ini bukan sekadar persoalan naik turunnya angka indeks. Ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan investor, transparansi pasar, kepastian hukum, dan kualitas tata kelola merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan pasar modal Indonesia. Kita tidak cukup hanya berharap IHSG kembali hijau, tetapi harus memastikan bahwa pasar modal kita semakin sehat, kredibel, dan kompetitif,” tegas Fahmi Ubaidillah.

Menurut Fahmi, tekanan terhadap pasar saham Indonesia harus direspons secara serius, terukur, dan berbasis data. Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta lembaga terkait perlu memperkuat koordinasi untuk mengidentifikasi sumber tekanan pasar sekaligus menyiapkan langkah pemulihan yang tepat.

Ia menilai, salah satu agenda penting yang harus diprioritaskan adalah pembenahan transparansi kepemilikan saham, peningkatan kualitas keterbukaan informasi emiten, penguatan pengawasan terhadap transaksi tidak wajar, serta penegakan hukum yang konsisten terhadap setiap pelanggaran di pasar modal.

“Investor membutuhkan kepastian bahwa pasar modal Indonesia berjalan secara transparan dan adil. Karena itu, pembenahan tata kelola tidak boleh berhenti pada wacana. Harus ada langkah konkret, target yang terukur, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” ujarnya.

Fahmi juga mendorong pemerintah dan regulator untuk memperkuat komunikasi dengan investor domestik maupun internasional, termasuk menindaklanjuti berbagai evaluasi terhadap standar keterbukaan dan aksesibilitas pasar Indonesia.

Menurutnya, kepercayaan investor hanya dapat dipulihkan secara berkelanjutan melalui reformasi yang nyata, bukan semata-mata melalui pernyataan optimistis.

Selain pembenahan tata kelola, Fahmi menekankan pentingnya memperkuat basis investor domestik melalui edukasi dan literasi keuangan, termasuk pengembangan pasar modal syariah.

Masyarakat perlu dibekali pemahaman mengenai investasi yang rasional, pengelolaan risiko, dan pentingnya mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan sampai masyarakat masuk ke pasar modal hanya karena ikut-ikutan ketika harga naik, kemudian panik dan mengambil keputusan yang merugikan ketika pasar terkoreksi. Kita harus membangun budaya investasi yang sehat, berorientasi jangka panjang, dan memahami risiko. Pasar modal harus menjadi instrumen pembiayaan ekonomi produktif, bukan sekadar arena spekulasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fahmi menegaskan bahwa penguatan IHSG harus ditopang oleh fundamental ekonomi nasional. Pertumbuhan industri, peningkatan produktivitas perusahaan, penciptaan lapangan kerja, serta hilirisasi yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian harus berjalan beriringan dengan penguatan pasar modal.

Ia mendorong agar perusahaan-perusahaan nasional yang memiliki fundamental sehat dan tata kelola yang baik memperoleh ruang untuk berkembang serta memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

“Pasar saham yang kuat harus mencerminkan ekonomi yang produktif. Hilirisasi, industrialisasi, dan investasi harus mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan daya saing Indonesia. Dengan demikian, penguatan pasar modal tidak hanya dinikmati oleh pelaku pasar, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Fahmi mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan kepanikan, rumor, ataupun janji keuntungan yang tidak realistis.

Di tengah volatilitas pasar, investor perlu mempertimbangkan fundamental emiten, profil risiko, dan kebutuhan keuangan masing-masing.

Menutup pernyataannya, Fahmi menegaskan bahwa momentum koreksi tajam IHSG harus dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi pasar modal Indonesia secara menyeluruh.

“Tujuan kita bukan sekadar membuat IHSG kembali naik dalam satu atau dua hari. Tujuan kita adalah membangun pasar modal Indonesia yang transparan, berintegritas, dipercaya investor, dan mampu menjadi penggerak ekonomi nasional. Pemerintah dan regulator harus menjawab situasi ini dengan reformasi yang konkret, sedangkan kita semua perlu menjaga rasionalitas dan kepercayaan terhadap proses pembenahan yang berbasis data,” tutup Fahmi Ubaidillah.(Alan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *