Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Amin Ak: Perkuat Produksi Dalam Negeri untuk Redam Dampak Pelemahan Rupiah

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Anggota Komisi XI DPR RI Amin Ak menilai pelemahan nilai tukar rupiah harus disikapi dengan langkah strategis melalui penguatan sektor-sektor produktif nasional. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi apabila dibarengi peningkatan produktivitas, daya saing, serta perolehan devisa negara.

Amin mengatakan, sejumlah negara telah membuktikan bahwa depresiasi mata uang tidak selalu menjadi hambatan ekonomi. Dengan kebijakan yang tepat, pelemahan nilai tukar justru dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor unggulan dan meningkatkan daya saing di pasar global.

“Fokus kita bukan meratapi rupiah yang melemah, melainkan mengejar ekonomi yang kuat. Ketika rupiah tertekan oleh dinamika global, kita harus mampu mengubah tantangan itu menjadi peluang ekonomi,” ujar Amin dalam keterangannya kepada Parlementaria di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah sektor potensial yang dapat menjadi penggerak ekonomi di tengah tekanan nilai tukar, di antaranya pariwisata, ekspor, serta hilirisasi industri.

Amin menilai pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata karena Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi wisatawan asing. Dengan nilai tukar yang lebih menguntungkan, biaya akomodasi, transportasi, kuliner, dan layanan wisata menjadi relatif lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.

“Pariwisata adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita harus mengirim barang ke luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif,” katanya.

Ia mendorong pemerintah memperkuat destinasi wisata unggulan seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Wakatobi melalui peningkatan konektivitas, kebersihan, keamanan, kualitas pelayanan, serta promosi di tingkat internasional.

Selain sektor pariwisata, Amin juga melihat peluang besar pada peningkatan ekspor nasional. Ia menyebut berbagai komoditas dan produk unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, perikanan, kopi, kakao, furnitur, tekstil, alas kaki, hingga industri kreatif memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar dunia.

Namun, menurutnya, peningkatan ekspor harus disertai percepatan hilirisasi agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.

“Hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita ekspor, semakin besar devisa yang masuk dan semakin kuat fondasi ekonomi nasional,” tegasnya.

Di sisi lain, Amin mengingatkan pemerintah agar tetap memperhatikan dampak pelemahan rupiah terhadap stabilitas ekonomi. Menurutnya, nilai tukar yang terlalu lemah dapat meningkatkan biaya produksi, mendorong inflasi, serta menekan daya beli masyarakat.

Karena itu, ia menilai strategi penguatan sektor produktif harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, khususnya untuk bahan baku strategis dan kebutuhan industri.

Amin juga mendorong peningkatan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha dalam menjaga inflasi, memperkuat iklim investasi, mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas pasar ekspor.

Menurutnya, kekuatan ekonomi suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh tinggi atau rendahnya nilai mata uang, melainkan oleh kemampuan menghasilkan produk dan jasa yang mampu bersaing secara global.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, dan potensi pariwisata kelas dunia. Jika semua potensi itu dikelola secara optimal, pelemahan rupiah bukan sekadar menjadi tantangan, tetapi dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkas politisi Fraksi PKS tersebut.(zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *