Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

BAM DPR Dorong Kebijakan Pertanian yang Lindungi Petani Tembakau dan Bawang Putih

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Temanggung | Harian Merdeka

Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan yang mampu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya petani tembakau dan bawang putih di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Dorongan tersebut disampaikan dalam Festival Aspirasi BAM DPR RI yang membahas kesejahteraan petani tembakau dan bawang putih di Temanggung, Senin (21/9/2026). BAM menilai kebijakan di sektor pertanian, perdagangan, dan industri perlu diselaraskan agar komoditas unggulan daerah memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Anggota BAM DPR RI Siti Mukaromah mengatakan keberpihakan kebijakan negara terhadap petani menjadi salah satu hal yang perlu diperjuangkan, termasuk dalam pengelolaan komoditas tembakau dan bawang putih.

“Jadi memang perjuangannya kita adalah bagaimana kebijakan negara ini justru berpihak kepada para petani. Termasuk urusan tembakau ataupun bawang putih,” ujar Siti saat mengikuti Festival Aspirasi BAM DPR RI.

Siti juga menyoroti persoalan impor bawang putih yang menjadi salah satu aspirasi petani. Menurutnya, ketergantungan terhadap komoditas impor perlu menjadi perhatian karena Temanggung memiliki potensi produksi bawang putih yang besar.

“Pembahasan tentang bawang putih dan juga tentang tembakau ini memang sudah cukup panjang, termasuk bagaimana bawang putih, konsep impor yang begitu luar biasa ini adalah bagian dari yang sangat merugikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut Siti, keberpihakan terhadap petani tidak hanya berkaitan dengan kebijakan impor. Pemerintah juga perlu mencari solusi ketika harga komoditas mengalami penurunan saat musim panen.

Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah memperkuat industri pengolahan hasil pertanian. Dengan pengolahan dan diversifikasi, produk pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi serta masa pemanfaatan yang lebih panjang.

“Di sinilah juga butuh daya kreativitas yang terkomunikasikan dengan berbagai pihak. Termasuk mungkin di sini pemerintah daerah dan juga mungkin kepada DPR RI atau DPRD provinsi melalui dapilnya masing-masing,” jelasnya.

Siti menilai tembakau dan bawang putih merupakan komoditas yang memiliki peran penting bagi perekonomian Temanggung. Karena itu, diperlukan sinergi antara kebijakan pertanian, perdagangan, dan industri agar pengembangan komoditas tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ia mengatakan persoalan yang dihadapi petani melibatkan kewenangan berbagai kementerian dan lembaga. Kondisi tersebut membuat komunikasi serta sinkronisasi kebijakan menjadi penting.

BAM DPR Minta Petani Tidak Dirugikan

Sementara itu, Ketua BAM DPR RI Ahmad Heryawan menekankan pentingnya melibatkan suara petani dalam pembahasan kebijakan mengenai pertembakauan.

Menurut Aher, sapaan Ahmad Heryawan, kebijakan tembakau perlu mempertemukan kepentingan kesehatan dan ekonomi tanpa menimbulkan kerugian bagi petani. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pembahasan mengenai kandungan tar dan nikotin.

Ia menilai karakteristik tembakau yang dihasilkan petani di wilayah tropis perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan agar tidak berdampak terhadap penyerapan hasil produksi petani.

“Gimana cara mempertemukannya, jangan sampai dipertemukan, tidak ketemu kemudian petani dirugikan. Saya tentu tidak setuju, kami tidak setuju kalau diskusi ini menghadirkan kerugian dan gangguan bagi para petani,” tegasnya.

Aher mengatakan pembahasan kebijakan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah dan antarkementerian. Aspirasi petani serta asosiasi yang berkaitan langsung dengan produksi di lapangan juga perlu menjadi bagian dari proses penyusunan kebijakan.

Selain tembakau, Aher menyoroti potensi pengembangan bawang putih di Temanggung. Ia menilai kemajuan teknologi pertanian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas bawang putih, termasuk melalui teknologi budidaya yang dapat membantu mengendalikan kondisi lingkungan.

Aher berharap kebijakan yang nantinya dihasilkan tetap memberikan ruang bagi keberlangsungan petani tembakau. Berbagai aspirasi yang disampaikan dalam Festival Aspirasi tersebut selanjutnya menjadi masukan bagi BAM DPR RI untuk membawa perspektif petani Temanggung ke tingkat pusat.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *