Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Soal Kritik Karhutla dari Negara Tetangga, Dasco: Kita Pilih Cara Bertetangga yang Baik

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad angkat suara merespons kritik sejumlah negara tetangga, terutama Singapura dan Malaysia, terkait kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan hingga Sumatera.

Dasco mengaku mengikuti sejumlah kritik tersebut, baik yang disampaikan pemerintah maupun parlemen kedua negara. Menurut dia, pihaknya menghargai setiap kritik tanpa harus menerima semua penilaian.

“Kritik tidak perlu dibalas dengan ketersinggungan, kritik perlu dijawab dengan kerja yang dapat diuji,” ujar Dasco dalam keterangannya, Rabu (28/10).

Bagi pemerintah, kata Dasco, yang paling penting adalah melindungi warga terdampak, melaksanakan penegakan hukum, pemulihan lingkungan, dan tanggung jawab pelaku usaha.

Dasco menilai parlemen negara ASEAN harus mulai duduk bersama, bukan hanya dalam masa krisis. Menurut dia, negara-negara ASEAN harus bekerja sama dalam berbagai sektor, mulai pencegahan bencana, keamanan siber, ketahanan pangan dan energi, serta penyelesaian persoalan lintas batas.

“Kita tidak dapat memilih tetangga, tetapi kita dapat memilih cara bertetangga: saling menghormati, berbicara terus terang, dan mencari jalan keluar bersama,” katanya.

Dia pada kesempatan itu sekaligus menyampaikan pidatonya dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh di hari yang sama, 28 Oktober. Menurut Dasco, para pemuda kala itu memang tak sepakat dalam banyak hal, namun mereka sepakat pada satu hal yakni tanah air.

“Mereka tidak sepakat dalam segala hal, tetapi mereka sepakat tentang suatu yang lebih penting, tanah air yang satu, bangsa yang satu, dan bahasa persatuan, Indonesia,” katanya.

Kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan memicu kabut asap di sejumlah negara termasuk Singapura dan Malaysia.

Indonesia telah mengerahkan berbagai upaya untuk memadamkan api mulai dari mengirim ribuan personel, water bombing, hingga melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Teranyar, Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir menerima kunjungan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan di Gedung Kemlu RI, Jakarta, Selasa (27/10). Vivian turut bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pekan lalu, Singapura juga merilis hasil investigasi yang menyebut 10 perusahaan di Indonesia diduga menjadi penyebab karhutla.

Kunjungan Vivian juga berlangsung kala hubungan Singapura dan Indonesia menjadi sorotan usai Jakarta memutuskan untuk menghentikan impor gas alam ke Singapura. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *