Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Ekspor Komoditas Sumut Tembus Rp258,9 Miliar, Kopi hingga Sarang Walet Dikirim ke 16 Negara

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Deliserdang | Harian Merdeka

Sumatera Utara (Sumut) memperluas jangkauan pasar internasional melalui pengiriman berbagai komoditas unggulan daerah dengan nilai mencapai Rp258,9 miliar. Produk yang diekspor meliputi sarang burung walet, hasil perikanan, kopi, pinang, pala, bunga, hingga sejumlah komoditas pertanian lainnya.

Pelepasan ekspor tersebut dilakukan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Sumut Timur Tumanggor bersama Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding di Kompleks MMTC, Jalan Willem Iskandar, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Kamis (29/10/2026).

Mewakili Gubernur Sumut Bobby Nasution, Timur mengatakan pemerintah provinsi terus mendorong pengembangan sektor ekonomi yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat ekspor komoditas unggulan daerah.

Menurutnya, besarnya nilai ekspor tersebut menunjukkan bahwa produk asal Sumatera Utara memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional.

“Hari ini sangat besar nilai ekspornya, baik itu dari sarang walet, perikanan, kopi, pinang dan lainnya. Bukan hanya sekadar nilainya atau jumlahnya yang besar, melainkan juga bahwa Sumatera Utara mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Timur.

Ia menjelaskan, peningkatan ekspor sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat perekonomian masyarakat dan meningkatkan daya saing produk lokal.

Sumut juga memiliki posisi strategis dalam aktivitas ekonomi kawasan Pulau Sumatera. Hal tersebut turut menjadi perhatian dalam pertemuan kepala daerah dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand beberapa waktu lalu.

Timur berharap kegiatan ekspor dan impor di Sumut terus didukung kepastian hukum, stabilitas harga, serta pemenuhan standar kualitas produk. Menurutnya, konsistensi dalam menjaga mutu komoditas akan meningkatkan kepercayaan negara tujuan terhadap produk Indonesia, khususnya dari Sumatera Utara.

Peningkatan kepercayaan pasar internasional tersebut diharapkan berdampak pada pertumbuhan nilai ekspor setiap tahun. Namun, upaya itu juga perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi berbagai komoditas unggulan daerah.

Sementara itu, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengapresiasi capaian ekspor Sumut yang mencapai Rp258,9 miliar. Ia menilai aktivitas perdagangan tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penerimaan daerah.

“Tentu Badan Karantina Indonesia sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, karena membantu bagi pertumbuhan ekonomi, sekaligus juga pendapatan masyarakat serta pendapatan daerah,” kata Karding, didampingi Kepala Balai Karantina Sumut Andi Yusmanto.

Karding menegaskan, Barantin terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan pemeriksaan komoditas agar proses karantina berlangsung cepat, mudah, dan dengan biaya terjangkau.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan prosedur karantina tidak menjadi hambatan dalam kegiatan ekspor maupun impor. Selain mempercepat pelayanan, Barantin juga memastikan produk yang dikirim memenuhi persyaratan negara tujuan.

“Saya contohkan, jika ada perusahaan ditolak di luar negeri, tugas kami membantu perusahaan itu agar bisa sesuai standar auditor di negara tersebut. Namun jika dua-tiga kali tidak juga berubah, maka kami yang mengambil tindakan. Karena jika tidak, dapat merusak kepercayaan dunia internasional. Karena itu tugas kita adalah melindungi, menjaga, memastikan dengan teliti, cepat, mudah, tidak berbelit dan yang pasti biayanya harus murah,” jelasnya.

Barantin juga memperkuat pendampingan bagi pengusaha pemula dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan klinik karantina.

Fasilitas tersebut memberikan bimbingan, pelatihan, dan pendampingan mengenai persyaratan perdagangan internasional. Materi yang diberikan mencakup standar keamanan, kesehatan, hingga kualitas produk yang harus dipenuhi sebelum memasuki pasar luar negeri.

Klinik karantina juga membantu pelaku usaha dalam pengurusan dokumen serta memberikan informasi mengenai kebutuhan produk di negara tujuan, termasuk peluang menemukan calon pembeli.

“Begitu juga dengan pengurusan dokumen karantina, kita (klinik karantina) membantu, sambil memberitahukan informasi tentang produk yang diinginkan oleh negara tertentu, hingga siapa calon pembelinya. Ini yang sedang kita masifkan. Sekali lagi kami mengapresiasi ekspor komoditi di Sumatera Utara. Secara tidak langsung, ini akan meningkatkan peluang kerja juga hingga kesejahteraan masyarakat,” pungkas Karding.

Adapun komoditas yang dilepas dalam kegiatan ekspor tersebut mencakup sarang burung walet senilai Rp11,22 miliar dengan berat 625,94 kilogram. Selain itu, terdapat kepiting bakau senilai Rp745 juta sebanyak 18.400 ekor atau setara 4.600 kilogram yang dikirim ke China.

Sementara itu, berbagai komoditas tumbuhan, antara lain kopi, pinang, buah pala, bunga, dan produk pertanian lainnya, memiliki nilai ekspor sekitar Rp247 miliar dengan total volume mencapai 9.552.899,36 kilogram.

Komoditas tersebut dikirim ke 16 negara tujuan. Pengiriman ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar produk unggulan Sumatera Utara sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pertanian dan perikanan terhadap perekonomian daerah.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *