Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Nezar Patria Dorong Startup Aceh Kembangkan AI Berbahasa Daerah

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Aceh | Harian Merdeka

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mendorong generasi muda, perguruan tinggi, dan pelaku startup di Aceh untuk mengembangkan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) berbasis bahasa lokal.

Menurutnya, Aceh memiliki peluang untuk berkontribusi dalam industri AI nasional melalui pengembangan Large Language Model (LLM) yang menggunakan bahasa Aceh. Inovasi tersebut dinilai dapat menjadi keunggulan daerah sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat.

Ajakan itu disampaikan Nezar saat menghadiri Seminar Terbuka bertajuk “Aceh dalam Peta AI Nasional: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem” di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (2/11/2026).

“Saya mendambakan ada large language model bahasa Aceh. Bisa ya kita bikin ya bahasa Aceh? Karena itu sangat penting karena kita punya keunikan sendiri,” ujarnya.

Nezar menjelaskan, pengembangan AI berbasis bahasa daerah membutuhkan kolaborasi antara bidang linguistik dan ilmu komputer. Menurutnya, bahasa memiliki keterkaitan erat dengan pola pikir serta cara masyarakat memahami lingkungan di sekitarnya.

Kolaborasi kedua bidang tersebut dapat menghasilkan teknologi AI yang lebih kontekstual dan mampu memahami karakteristik masyarakat lokal.

“Linguistik dipadukan dengan computer science. Hari ini inilah yang kemudian membuat artificial intelligence makin dekat dengan cara berpikir manusia,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret memperkuat ekosistem inovasi digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana menghadirkan Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh melalui kerja sama dengan pemerintah kota.

Fasilitas tersebut akan menjadi wadah pelatihan, pengembangan inovasi, serta pendampingan bagi startup yang ingin memanfaatkan teknologi AI untuk berbagai kebutuhan.

Nezar menyebut, kehadiran Garuda Spark diharapkan mendorong anak muda Aceh menghasilkan solusi digital di sejumlah sektor strategis, seperti kesehatan, pertanian, perikanan, dan pendidikan.

“Insyaallah akan kita buka bekerja sama dengan Wali Kota Banda Aceh. Kementerian Komdigi melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital akan membuka Garuda Spark di Aceh,” ungkapnya.

Ia menilai Aceh memiliki potensi sumber daya manusia yang dapat menjadi modal penting dalam pengembangan industri teknologi. Dukungan perguruan tinggi dan antusiasme kalangan akademisi terhadap perkembangan digital juga dinilai mampu memperkuat ekosistem AI di daerah tersebut.

Meski demikian, peningkatan kompetensi talenta digital tetap menjadi pekerjaan penting. Nezar mengungkapkan, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital hingga 2030. Sementara itu, kapasitas penyediaan talenta saat ini baru mencapai sekitar empat juta orang.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai bidang yang berkembang seiring kemajuan teknologi.

Nezar menegaskan, pengembangan AI bukan hanya menjadi ranah lulusan teknologi informasi atau ilmu komputer. Mahasiswa dari disiplin ilmu lain, termasuk linguistik dan bahasa, juga memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam industri tersebut.

Karena itu, ia mendorong generasi muda Aceh agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan inovasi dan produk digital yang memiliki daya saing.

Nezar berharap semakin banyak startup asal Aceh yang mampu menembus persaingan nasional dan menjadi bagian dari perkembangan industri AI Indonesia.

“Saya ingin melihat startup-startup Aceh bisa berada di top 10 pentas nasional. Dan itu harus dihasilkan oleh rekan-rekan semua, anak-anak muda Aceh,” pungkasnya.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *