Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Jelang Laga Penentuan Kontra Singapura, John Herdman Didesak Evaluasi Strategi High Pressing Timnas Indonesia

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | Harian Merdeka

Timnas Indonesia dihadapkan pada laga krusial menghadapi Singapura pada lanjutan Grup A Piala AFF 2026. Menjelang pertandingan tersebut, pelatih John Herdman dinilai perlu mengevaluasi strategi permainan high pressing yang sejauh ini belum berjalan konsisten dan justru beberapa kali menjadi celah bagi lawan.

Selama menangani Skuad Garuda di Piala AFF 2026, Herdman konsisten menerapkan formasi 3-4-3 dengan garis pertahanan tinggi. Strategi tersebut terbukti efektif saat Indonesia mengalahkan Kamboja 5-1 pada laga pembuka.

Pada pertandingan itu, kehadiran Sandy Walsh memberikan keseimbangan di lini belakang. Bek naturalisasi tersebut mampu membantu serangan sekaligus cepat kembali mengisi lini pertahanan. Peran Marc Klok, Ivar Jenner, dan Thom Haye juga membuat transisi permainan Indonesia berjalan lebih rapi.

Namun, situasi berbeda terlihat saat Indonesia menghadapi Timor Leste. Absennya Sandy Walsh membuat skema high pressing kehilangan keseimbangan. Meski menang 3-0, pertahanan Indonesia beberapa kali kerepotan mengantisipasi serangan balik lawan.

Rotasi enam pemain yang dilakukan Herdman membuat koordinasi lini belakang belum solid. Jordi Amat, Wahyu Prasetyo, dan Braif Fatari beberapa kali kehilangan posisi, sementara Eliano Reijnders dan Tim Geypens dinilai kurang maksimal membantu transisi bertahan.

Performa Indonesia baru membaik setelah Sandy Walsh dan Shayne Pattynama masuk pada babak kedua. Dony Tri Pamungkas juga memberi kontribusi penting melalui assist yang berujung gol Shayne Pattynama.

Meski demikian, Herdman tetap menyatakan akan mempertahankan identitas permainan tim saat menghadapi Vietnam.

“Yang bisa kami kendalikan adalah kembali ke identitas kami, memaksakan gaya bermain kami, dan memanfaatkan setiap peluang melawan Vietnam,” ujar Herdman sebelum laga.

Sayangnya, strategi tersebut justru gagal membendung permainan Vietnam. Tim berjuluk Golden Star Warriors mampu memanfaatkan ruang kosong di belakang lini pertahanan Indonesia dan mencetak dua gol cepat melalui serangan balik.

Pelatih asal Kanada itu mengaku tidak memperkirakan Vietnam akan melakukan perubahan strategi secara signifikan.

“Saya tidak menyangka Vietnam akan berubah secepat ini setelah hasil imbang melawan Singapura. Kami kebobolan dua gol dengan mudah dalam 15 menit pertama dan tidak bisa menjalankan rencana permainan,” katanya.

Kekalahan 0-3 dari Vietnam juga diwarnai sejumlah kesalahan individu. Gol pertama bermula dari kehilangan bola yang dialami Rizky Ridho setelah mendapat tekanan pemain Vietnam. Sementara gol kedua lahir ketika lini pertahanan Indonesia terlalu tinggi sehingga memberikan ruang bagi lawan melakukan serangan balik cepat.

Rizky Ridho mengakui dirinya melakukan sejumlah kesalahan dan berjanji melakukan evaluasi.

“Saya sendiri telah melakukan banyak kesalahan yang menyebabkan kebobolan. Saya harus introspeksi diri agar kesalahan tersebut tidak terulang,” ujar Ridho.

Menghadapi Singapura, Indonesia wajib meraih kemenangan untuk menjaga peluang lolos ke semifinal Piala AFF 2026. Karena itu, evaluasi terhadap strategi high pressing dinilai menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus dilakukan John Herdman agar Skuad Garuda tampil lebih solid dan tidak kembali mudah dihukum melalui serangan balik lawan. (Hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *