Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Gebermas 2026 Bukan Sekadar Bersih-Bersih, Kemenag Ingin Masjid Jadi Pusat Pemberdayaan Umat

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | Harian Merdeka

Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan Gerakan Bersih-Bersih Masjid (Gebermas) 2026 tidak hanya ditujukan untuk menciptakan rumah ibadah yang bersih dan nyaman. Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan masjid sebagai pusat kehidupan dan pemberdayaan masyarakat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan masjid memiliki peran yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar tempat melaksanakan ibadah. Menurutnya, masjid merupakan ruang bertemunya masyarakat dalam berbagai aktivitas, mulai dari kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial hingga penguatan ekonomi umat.

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat membuka Kick Off Gebermas 2026 di Masjid Fatahillah, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (10/8/2026).

Gerakan tersebut diikuti jajaran Kemenag dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara langsung serta jajaran Kantor Wilayah Kemenag di seluruh Indonesia secara daring. Lebih dari 50 ribu masjid dan musala turut terlibat dalam pelaksanaan Gebermas 2026.

Nasaruddin menjelaskan, kebersihan menjadi langkah awal untuk menciptakan rumah ibadah yang nyaman sehingga masyarakat dapat menjalankan berbagai aktivitas dengan lebih baik.

“Rumah ibadah itu sangat penting. Rumah ibadah adalah meeting point antara hamba dengan Tuhan. Tempat pertemuan antara hamba dengan Tuhannya,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai kondisi rumah ibadah akan memengaruhi kenyamanan jamaah. Karena itu, kebersihan masjid tidak seharusnya dianggap sebagai pekerjaan teknis atau kegiatan seremonial semata.

“Bagaimana kita bisa berkonsentrasi beribadah kalau masjidnya bau? Karena itu masjid harus bersih, tempat wudhunya bersih, toiletnya bersih, lingkungannya juga harus bersih,” tegasnya.

Menurut Nasaruddin, budaya menjaga kebersihan masjid perlu dibangun secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Ia bahkan mendorong keluarga untuk menjadikan aktivitas membersihkan masjid sebagai bagian dari pendidikan karakter bagi anak-anak.

Orang tua, kata dia, dapat mengajak anak datang ke masjid sekaligus ikut merawat lingkungan rumah ibadah. Dengan cara tersebut, rasa memiliki terhadap masjid dapat tumbuh sejak usia dini.

“Datanglah ke masjid bersama keluarga. Bawa anak-anak. Bersihkan karpetnya, bersihkan toiletnya, rapikan lingkungannya. Ini bukan pekerjaan yang rendah. Ini pekerjaan yang sangat mulia,” katanya.

Lebih jauh, Nasaruddin menekankan bahwa tujuan utama Gebermas adalah mendorong transformasi fungsi masjid agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia ingin rumah ibadah dapat berkembang menjadi pusat pemberdayaan umat yang mampu mendukung berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, budaya dan pelayanan sosial.

Nasaruddin mencontohkan pengembangan fungsi Masjid Istiqlal Jakarta yang kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyediakan berbagai layanan bagi masyarakat.

Sejumlah fasilitas yang dikembangkan antara lain pembelajaran bahasa asing, perpustakaan digital, konsultasi keagamaan, fasilitas olahraga, penginapan gratis bagi musafir hingga berbagai program penguatan ekonomi umat.

“Kalau selama ini umat yang memberdayakan masjid, maka ke depan masjid yang memberdayakan umat,” tegasnya.

Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan Gebermas 2026. Dengan melibatkan lebih dari 50 ribu masjid dan musala, Kemenag berharap gerakan ini dapat menjadi awal dari terbentuknya budaya menjaga kebersihan sekaligus menghidupkan kembali fungsi sosial rumah ibadah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad mengatakan Gebermas merupakan bagian dari program prioritas Kemenag di bidang ekoteologi dan pemberdayaan rumah ibadah.

Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan peluncuran selesai. Sebaliknya, kebersihan masjid diharapkan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara rutin oleh pengelola rumah ibadah, penyuluh agama dan masyarakat.

“Masjid yang bersih akan membuat ibadah semakin nyaman. Dari sana kita ingin rumah ibadah benar-benar menjadi pusat kegiatan masyarakat yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Abu Rokhmad.

Melalui Gebermas, Kemenag ingin menjadikan kebersihan sebagai pintu masuk untuk mengembalikan masjid pada fungsi strategisnya dalam kehidupan umat.

Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah, tetapi juga ruang yang mampu memperkuat spiritualitas, membangun pendidikan, menggerakkan ekonomi dan menghadirkan manfaat sosial bagi masyarakat di sekitarnya.(zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *