Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kenali Penyebab Balita Lebih Berisiko Alami Usus Buntu Akut Berkomplikasi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | Harian Merdeka

Radang usus buntu atau appendicitis akut pada anak di bawah usia lima tahun perlu mendapat perhatian lebih. Selain lebih sulit didiagnosis, kondisi tersebut juga memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan pada anak yang lebih besar.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K), mengatakan kasus appendicitis akut memang lebih banyak ditemukan pada usia remaja. Namun, pada anak yang lebih kecil, terutama di bawah lima tahun, kasus yang datang dengan komplikasi justru lebih sering terjadi.

Appendicitis akut ini paling sering terjadi di usia remaja belasan tahun, tapi uniknya usus buntu pada usia-usia yang lebih kecil, di bawah lima tahun, kejadian komplikasi lebih sering dibandingkan anak-anak yang usianya lebih tua,” kata Himawan dalam seminar daring IDAI, Selasa.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat diagnosis pada balita lebih sulit adalah kemampuan anak dalam menyampaikan keluhan yang masih terbatas. Anak, terutama yang belum dapat berbicara dengan baik, umumnya belum mampu menjelaskan lokasi maupun karakteristik nyeri yang dirasakan.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan gejala usus buntu tidak segera dikenali. Akibatnya, sebagian anak baru dibawa ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah berkembang dan mengalami komplikasi.

Himawan menjelaskan, appendicitis akut merupakan salah satu penyebab yang cukup sering memerlukan tindakan operasi pencernaan dalam kondisi darurat.

Salah satu komplikasi paling berat adalah perforasi, yakni ketika usus buntu mengalami kebocoran atau pecah. Kondisi ini dapat menyebabkan isi dari usus buntu keluar ke rongga perut dan memicu infeksi.

“Komplikasi yang salah satu komplikasi terberat dari usus buntu itu adalah usus buntu itu bocor, istilahnya adalah perforasi,” ujarnya.

Selain keterbatasan anak dalam menyampaikan keluhan, diagnosis juga menjadi tantangan karena gejala appendicitis pada anak kecil dapat menyerupai sejumlah penyakit lain.

Beberapa kondisi yang memiliki gejala serupa antara lain infeksi saluran pencernaan atau gastroenteritis, sembelit, infeksi saluran kemih, adenitis mesenterica, hingga intususepsi.

Sementara pada anak yang lebih besar atau remaja, gejala usus buntu umumnya lebih mudah dikenali. Gejala klasik dapat diawali dengan penurunan nafsu makan, kemudian muncul sakit perut di sekitar pusar atau ulu hati, disertai muntah, sebelum akhirnya nyeri berpindah ke bagian kanan bawah perut.

Karena itu, orang tua disarankan memperhatikan perubahan gejala ketika anak mengalami sakit perut. Terlebih apabila rasa nyeri semakin berat atau mulai terpusat di bagian kanan bawah perut.

Nyeri yang bertambah ketika anak bergerak atau berjalan, disertai muntah dan demam, serta perut yang terasa sangat sakit ketika disentuh juga perlu menjadi perhatian.

“Jadi sebagai orang tua sangat penting sekali untuk memantau apakah gejala anaknya yang menderita sakit ini bertambah gejalanya ataupun juga intensitasnya bertambah berat atau tidak,” kata Himawan.(Zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *