Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Gawai Berlebihan Bisa Ganggu Tidur Anak, Ini Saran Dokter Jiwa

Bagikan: Facebook X WhatsApp

BINTARO | Harian Merdeka

Penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan tidak hanya membuat anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar, tetapi juga dapat berdampak terhadap kualitas tidur, konsentrasi hingga kondisi emosional.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dari RS Sari Asih Bintaro, Nina Masdiani, dr., Sp.KJ, mengatakan gangguan tidur menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan ketika anak terlalu banyak menggunakan gawai.

Penjelasan dr Nina, paparan cahaya dari layar, termasuk blue light, dapat mengganggu produksi melatonin yang berperan dalam mengatur siklus tidur.

“Kualitas tidur yang buruk berkorelasi langsung dengan emosi yang tidak stabil, mudah marah, dan penurunan konsentrasi belajar di sekolah,” tambah dr. Nina.

Selain persoalan tidur, pembatasan akses media sosial juga diharapkan dapat mengurangi risiko cyberbullying.
Perundungan di ruang digital dapat berlangsung terus-menerus dan memberikan tekanan psikologis kepada anak. WHO memasukkan cyberbullying sebagai salah satu risiko lingkungan digital yang dapat berdampak terhadap kesehatan mental anak dan remaja.

Untuk itu, orang tua tidak disarankan hanya memberikan larangan. Anak perlu mendapatkan penjelasan mengenai alasan pembatasan penggunaan media sosial.

Untuk itu, dr. Nina menyarankan orang tua melakukan tiga hal.

Pertama, memberikan edukasi, bukan sekadar larangan, agar anak memahami bahwa pembatasan dilakukan untuk menjaga keamanan dan kesehatan mereka.

Kedua, menyediakan aktivitas pengganti, seperti olahraga, seni atau berkebun sehingga waktu yang biasanya digunakan untuk bermain gawai dapat dialihkan ke aktivitas lain.

Ketiga, menjadi teladan dalam penggunaan gawai. Anak akan lebih mudah mengikuti aturan apabila orang tua juga menerapkan kebiasaan digital yang sehat di rumah.

Dengan demikian, penerapan aturan perlindungan anak di ruang digital dapat berjalan beriringan dengan peran keluarga. Pembatasan akses menjadi salah satu upaya perlindungan, sementara edukasi dan pendampingan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental anak.(Wil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *