Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Manuver Politik Jelang 2029 Memanas! Poros Solo, Cikeas, hingga PDIP Mulai Pasang Kuda-kuda, Gerindra Jadi Magnet Kekuasaan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Peta politik nasional mulai menunjukkan tanda-tanda memanas meski kontestasi Pilpres 2029 masih cukup jauh. Sejumlah poros politik disebut mulai bergerak membaca arah kekuasaan, termasuk poros Solo, Cikeas, PDIP, hingga partai-partai papan tengah.

Peneliti Doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia, Insan Praditya, menilai partai-partai seperti Golkar dan sejumlah partai papan tengah mulai mengirimkan sinyal politik agar dapat dilibatkan dalam salah satu kubu yang memiliki peluang besar menuju pertarungan politik mendatang.

Menurutnya, kemunculan Poros Solo maupun Poros Cikeas saat ini masih belum cukup kuat untuk menandingi kekuatan politik yang sedang berkuasa.

“Partai-partai seperti Golkar dan partai-partai papan tengah sedang mengirimkan sinyal agar dapat dilibatkan dalam salah satu kubu. Kemunculan poros Solo maupun poros Cikeas saya rasa masih cukup jauh untuk menyaingi kekuatan yang sedang berkuasa saat ini,” kata Insan.

Ia juga melihat peluang Poros Solo dan Poros Cikeas untuk melebur menjadi satu kekuatan masih sangat kecil. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan pendekatan dalam melihat demokrasi dan arah politik.

“Kedua poros juga memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk bergabung karena terdapat perbedaan pendekatan melihat demokrasi,” ujarnya.

Cikeas Punya Dua Pilihan
Insan menilai posisi kubu Cikeas menjadi menarik dalam peta politik tersebut.

Setidaknya ada dua kemungkinan yang sedang dimainkan.
Pertama, kubu Cikeas benar-benar tengah memperkuat kapasitas politik untuk merebut suara masyarakat.

Kedua, manuver tersebut dilakukan untuk mendapatkan perhatian dan membuka peluang agar pada akhirnya dapat dirangkul oleh poros Gerindra yang saat ini memegang kekuasaan.

“Ada dua kemungkinan terkait kubu Cikeas. Kemungkinan pertama bahwa mereka sedang memperkuat kapasitas politiknya untuk merebut suara.

Kemungkinan kedua, agar memperoleh perhatian dan pada akhirnya dapat dirangkul oleh poros Gerindra yang saat ini memegang kekuasaan,” kata Insan.

Sementara itu, peluang PDIP bergabung dengan Poros Solo maupun Cikeas juga dinilai menghadapi persoalan tersendiri. Sejarah hubungan politik yang pahit membuat kemungkinan terbentuknya koalisi tersebut tidak mudah.

Prabowo Disebut Mulai Konsolidasi Kekuasaan
Lebih jauh, Insan melihat maraknya manuver politik lebih awal tidak terlepas dari proses konsolidasi kekuasaan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut dia, konsolidasi tersebut sekaligus menciptakan tekanan bagi kelompok-kelompok politik di luar lingkaran kekuasaan untuk mulai mencari strategi bertahan dan membangun kekuatan alternatif.

“Dinamika politik dipenuhi manuver politik lebih awal karena Prabowo Subianto yang mengkonsolidasi kekuasaan sekaligus menyingkirkan orang-orang yang tidak memiliki kedekatan kuat dengannya,” tutur Insan.

Situasi itu, lanjut dia, mendorong poros-poros politik lain untuk tidak tinggal diam. Mereka mulai mempersiapkan diri lebih awal demi merebut simpati masyarakat sekaligus memastikan posisi tawar mereka tidak melemah ketika pertarungan politik semakin mendekat.

Dari konfigurasi yang ada, Insan melihat Poros Cikeas menjadi kubu yang paling memiliki ruang untuk melakukan negosiasi dengan Gerindra.

“Dari tiga poros yang ada, poros Cikeas tampaknya menjadi satu-satunya yang masih memiliki ruang untuk bernegosiasi dengan kubu Gerindra,” katanya.

Sebaliknya, ia menilai PDIP dan Poros Solo menghadapi pilihan yang lebih berat.

“Kedua kubu lainnya yakni PDIP dan Solo tidak punya pilihan lain kecuali berdiri sendiri melawan koalisi penguasa,” pungkasnya.

Jika konfigurasi tersebut terus bertahan, pertarungan menuju 2029 berpotensi tidak sekadar menjadi pertarungan antarcalon, tetapi juga menjadi adu kekuatan antara poros kekuasaan dan poros alternatif yang mulai dibangun jauh sebelum masa kampanye resmi dimulai.(Agus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *