Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

PSI Sentil Rocky Gerung: Sudah ‘Kena Batunya’ Setelah Keras Serang Jokowi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Rocky Gerung kembali menjadi sasaran kritik. Kali ini, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyentil pengamat politik tersebut dengan menyebut Rocky sudah “kena batunya” setelah bertahun-tahun dikenal vokal menyerang Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Sindiran itu dilontarkan ketika sejumlah pihak yang sebelumnya berada di barisan pendukung atau setidaknya kerap mengapresiasi Rocky kini mulai mempertanyakan sikap politiknya.

Kader PSI Dedy Nur Palakka bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai ironi bagi Rocky.

Menurutnya, orang-orang yang dahulu memuji dan memberikan ruang kepada Rocky kini justru ikut menyerangnya.

“Rocky Gerung bisa juga menikmati serangan mondar-mandir dari para mantan pemujanya,” ujar Dedy.

Pernyataan tersebut membuka kembali pertanyaan mengenai konsistensi Rocky dalam memainkan peran sebagai pengkritik kekuasaan.

Selama era pemerintahan Jokowi, Rocky dikenal sebagai salah satu figur publik yang paling keras melontarkan kritik.

Berbagai kebijakan dan langkah politik Jokowi kerap menjadi sasaran kritiknya.
Namun, ketika peta kekuasaan berubah setelah Pemilu 2024, posisi Rocky kembali diperdebatkan. Kritik terhadap pemerintah kini tidak selalu datang dengan intensitas yang sama, sehingga muncul pertanyaan di ruang publik: apakah standar kritik terhadap kekuasaan harus berubah ketika penguasanya berganti?

Di sinilah sindiran PSI menjadi relevan untuk diperdebatkan.

Jika kritik terhadap Jokowi dahulu dianggap sebagai bentuk keberanian intelektual, maka publik juga berhak menggunakan standar yang sama untuk menilai kritik Rocky terhadap pemerintahan saat ini.

Jangan sampai kritik terhadap kekuasaan hanya keras ketika berhadapan dengan lawan politik, tetapi melunak ketika berhadapan dengan kekuasaan yang berbeda.

Namun, kritik PSI juga layak diuji secara kritis. Sebab, menilai Rocky hanya berdasarkan siapa yang sedang menjadi sasaran kritiknya juga berisiko menjadikan politik sekadar pertarungan kubu.

Dalam demokrasi, yang semestinya diuji bukan siapa yang dikritik, melainkan apakah kritik tersebut konsisten, berbasis fakta, dan menggunakan standar yang sama terhadap setiap penguasa.

Rocky tentu memiliki hak untuk mengkritik maupun mengubah pandangannya. Begitu pula publik memiliki hak untuk mempertanyakan konsistensinya.

Karena itu, istilah “kena batunya” yang digunakan PSI justru bisa menjadi bumerang jika hanya dipakai sebagai ejekan politik.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah para pengkritik kekuasaan benar-benar konsisten ketika kekuasaan berganti tangan?

Sebab, demokrasi membutuhkan pengkritik yang berani mengawasi siapa pun yang berkuasa—bukan sekadar mereka yang berada di seberang pilihan politiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *