Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Rupiah Tertekan, BI Perkuat Intervensi dan Insentif Jaga Stabilitas Nilai Tukar

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global gubernur BI Destry Damayanti mengatakan rupiah pada 22 September 2026 berada di level Rp17.855 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,78 persen dibandingkan dengan akhir Agustus 2026.

“Rupiah per 22 September tercatat Rp17.855 per dolar AS, melemah terbatas 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus 2026,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9/2026).

Menurut Destry, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, termasuk meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas dan meningkatkan risiko terhadap perekonomian dunia.

Selain itu, kebijakan moneter global masih relatif ketat. Suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Funds Rate (FFR) berada di kisaran 3,75–4 persen pada September 2026 dan masih berpotensi mengalami perubahan.

Kondisi tersebut turut memengaruhi imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Kenaikan yield dan prospek suku bunga yang lebih tinggi dapat menahan aliran modal ke negara berkembang sekaligus memperkuat dolar AS. Meski menghadapi tekanan eksternal, BI memperkirakan pergerakan rupiah tetap stabil dengan dukungan kondisi fundamental domestik serta kebijakan bank sentral.

“Ke depan BI perkirakan rupiah akan bergerak stabil didukung oleh komitmen BI serta imbal hasil menarik, inflasi terkendali dan prospek ekonomi yang tetap baik,” ujar Destry.

BI Optimalkan Instrumen Moneter

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI akan memperkuat strategi intervensi di pasar valuta asing dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah,” tegas Destry.

Intervensi dilakukan melalui pasar offshore menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Sementara di pasar domestik, BI menggunakan transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain intervensi di pasar valuta asing, BI juga memperkuat berbagai insentif untuk mendorong masuknya aliran modal asing serta meningkatkan transaksi lindung nilai atau hedging.

Mulai September 2026, BI meningkatkan insentif untuk transaksi Swap Beli Lindung Nilai dengan underlying pendanaan eksternal. Skema tersebut mencakup aliran modal portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan investasi langsung asing.

Besaran insentif ditetapkan menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk tenor enam bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan. Sebelumnya, insentif untuk seluruh tenor berada di level 12,5 persen. Sementara itu, insentif untuk transaksi DNDF lindung nilai dinaikkan menjadi 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan. Sebelumnya, insentif masing-masing tenor tersebut berada di level 15 persen.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BI dalam menjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik di tengah dinamika ekonomi global.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *