Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kesiapan Tempur TNI AU Tak Hanya Soal Alutsista, SDM Prajurit Jadi Perhatian

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Surakarta | Harian Merdeka

Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menekankan pentingnya kesiapan tempur atau combat readiness prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU) dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman militer.

Menurut Amelia, kesiapan tempur tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Faktor sumber daya manusia (SDM), kesiapan operasi, pemeliharaan alutsista, hingga kemandirian industri pertahanan juga perlu menjadi perhatian.

Hal tersebut disampaikan Amelia dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi I DPR RI ke Landasan Udara Adi Soemarmo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026).

“(Combat readiness) tidak hanya penambahan alutsista tetapi juga (menyangkut) bagaimana kesiapan operasi kemudian keandalan pemeliharaan kualitas sumber daya manusia sekaligus kemandirian industri pertahanan kita,” ujar Amelia.

Ia juga mendorong TNI AU mengoptimalkan strategi operasi penerbangan untuk menghadapi karakter peperangan modern yang semakin kompleks. Tantangan tersebut, antara lain, mencakup peperangan siber dan perang multidomain.

Menurutnya, optimalisasi kemampuan operasi penerbangan harus berjalan beriringan dengan kesiapan tempur serta aspek keselamatan penerbangan.

“Optimalisasi penerbangan ini memang harus berjalan seiring dengan combat readiness kemudian juga keselamatan penerbangan,” ungkap politikus Fraksi Partai NasDem tersebut.

Amelia menilai modernisasi alutsista perlu diikuti dengan peningkatan kualitas personel. Penambahan jumlah maupun jenis platform persenjataan, menurutnya, tidak akan optimal apabila tidak didukung prajurit yang memiliki kemampuan dan kesiapan menghadapi berbagai situasi operasi.

Ia mengatakan prajurit TNI AU perlu memiliki pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi peperangan yang kompleks.

“Jadi bukan menambah jumlah dan jenis platformnya saja (alutsita) tetapi harus memastikan pendidikan dan pelatihan yang mampu mencetak personel memiliki combat readiness dan kemampuan mengambil Keputusan dalam situasi operasi yang kompleks,” pungkasnya.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *