Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

PMI Manufaktur Indonesia Naik ke 52,4, Menkeu Sebut Sinyal Ekspansi Industri

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan pada September 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur nasional tercatat naik menjadi 52,4, menandakan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan capaian tersebut dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Menurutnya, posisi PMI di atas angka 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami pertumbuhan.

“Di Indonesia PMI manufakturnya juga meningkat ke 52,4, yang kalau kita tahu selama angkanya di atas 50 berarti ini ada indikasi ekspansi manufaktur,” ungkap Suahasil.

Ia menjelaskan, perkembangan manufaktur Indonesia sejalan dengan tren industri global. Berdasarkan data PMI manufaktur pada akhir September, sekitar 75 persen negara mencatatkan indeks di atas 50. Sementara itu, 25 persen negara lainnya masih berada di bawah angka tersebut, yang menunjukkan aktivitas industri mengalami kontraksi.

“Meskipun tiap bulan angka ini berubah-ubah, tapi kita cukup comfortable untuk angka Indonesia itu ada di sisi 52,4 atau ekspansi,” jelasnya.

Permintaan Domestik Jadi Pendorong

Suahasil menjelaskan, peningkatan PMI manufaktur Indonesia didukung sejumlah indikator yang menunjukkan aktivitas industri semakin bergairah.

Pertama, permintaan domestik yang menguat mendorong pelaku industri meningkatkan produksi barang dan jasa. Peningkatan aktivitas tersebut juga berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan pasar, termasuk pesanan ekspor.

Kedua, penyerapan tenaga kerja menunjukkan perkembangan positif. Aktivitas perekrutan kembali berada dalam fase ekspansi. Selain itu, peningkatan jumlah pesanan yang belum terselesaikan atau backlog mengindikasikan kebutuhan produksi masih berpotensi bertambah.

Ketiga, pembelian dan persediaan bahan baku turut meningkat. Kondisi ini menunjukkan pelaku usaha mulai mengantisipasi kenaikan kebutuhan produksi serta memperkirakan permintaan pasar akan terus menguat.

“Pengusaha itu kalau dia beli dan stok input, itu karena dia memikirkan bahwa produksi akan naik. Permintaan akan meningkat, saya akan harus produksi lebih banyak,” kata Suahasil.

Keempat, tekanan harga bahan baku dan produk jadi relatif melandai. Perkembangan tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi pelaku industri dalam menentukan keputusan pembelian bahan baku dan rencana produksi.

Meski tekanan harga mulai mereda, pelaku usaha tetap meningkatkan pembelian serta persediaan bahan baku untuk mengantisipasi kebutuhan produksi.

“Harga input ada melandai dikit, harga output juga agak melandai. Tapi imbangan ini direspon oleh pengusaha dengan melakukan pembelian dan stok input yang meningkat,” pungkasnya.

Kenaikan PMI manufaktur ke level 52,4 menjadi salah satu indikator positif bagi aktivitas industri nasional. Namun, perkembangan selanjutnya tetap perlu dicermati untuk melihat keberlanjutan ekspansi manufaktur Indonesia di tengah dinamika permintaan dan kondisi industri global.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *