Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

ADB Siapkan 218 Juta Dolar AS untuk Pembangunan 37 Laboratorium Ramah Lingkungan BPOM

Bagikan: Facebook X WhatsApp

MAKASSAR | Harian Merdeka

Asian Development Bank (ADB) menyiapkan pendanaan sebesar 218 juta dolar AS untuk mendukung pembangunan 37 laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan konsep ramah lingkungan atau green laboratory.

Direktur ADB untuk Indonesia Bobur Alimov mengatakan, penguatan laboratorium menjadi bagian penting dalam mendukung tugas BPOM, terutama melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan peralatan dan teknologi yang memadai.

“Pekerjaan BPOM sangat bergantung pada karyawan serta kapasitas dan peralatan teknologi yang digunakan di laboratorium. Dan kami sangat senang bisa berpartisipasi dengan BPOM memperkuat semua ini,” kata Bobur saat mengunjungi Balai Besar BPOM Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.

Dukungan pendanaan tersebut disalurkan melalui proyek bertajuk Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug Project atau BPOM Project. ADB menilai BPOM memiliki komitmen untuk mempertahankan standar global secara konsisten, termasuk standar World-Listed Authority (WLA).

Dalam Rencana Strategis BPOM 2025–2029, pengawasan yang efektif disebut membutuhkan dukungan laboratorium yang kuat serta sumber daya manusia yang kompeten. Atas dasar itu, ADB menginisiasi BPOM Project yang mencakup pembangunan laboratorium sekaligus penyediaan peralatan pendukung.

Pembangunan tersebut menerapkan prinsip ramah lingkungan (green) dan tangguh (resilient) untuk mendukung keberlanjutan. Salah satu laboratorium dengan konsep tersebut dibangun di Balai Besar BPOM Makassar.

Kepala Balai Besar POM di Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa menjelaskan, laboratorium ramah lingkungan dirancang agar lebih efisien dalam penggunaan sumber daya, termasuk air dan listrik, serta tidak mencemari lingkungan.

Khusus pembangunan laboratorium ramah lingkungan di Makassar, kebutuhan anggarannya mencapai Rp50 miliar. Seluruh pendanaan untuk proyek tersebut berasal dari ADB.

“Untuk fasilitas pembangunan green lab, termasuk juga nanti fasilitas di dalamnya seperti alat-alat pendukung, yang harapannya nanti bisa makin memperkuat kapasitas Balai Besar BPOM Makassar,” ujar Yosef.

Sejumlah peralatan yang direncanakan untuk mendukung kegiatan pengujian di laboratorium tersebut antara lain instrumen untuk mendeteksi cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG), peralatan pengujian cemaran kimia berkadar rendah, lemari asam (fume hood), serta alat titrasi otomatis.

Selain pembangunan dan pengadaan peralatan laboratorium, BPOM Project juga mencakup penguatan sistem informasi digital. Pengembangan ini ditujukan untuk memfasilitasi pertukaran data, integrasi sistem, serta analisis big data.

Melalui dukungan tersebut, pengawasan pasar berbasis risiko dan pengawasan terhadap lokapasar (marketplace) daring diharapkan dapat berjalan lebih optimal.

Proyek ini juga akan memperkuat kemampuan teknis dan manajerial staf BPOM dalam menjalankan fungsi regulasi, sehingga pelaksanaan pengawasan obat dan makanan dapat didukung oleh infrastruktur, teknologi, dan sumber daya manusia yang lebih memadai.(zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *