Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

OTT KPK Guncang Summarecon, Saham Summarecon Agung Rontok 13 Persen

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka 

Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mendapat tekanan di pasar modal setelah Presiden Direktur Adrianto Pitojo Adhi termasuk dalam 17 orang yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tekanan tersebut terlihat dalam perdagangan saham SMRA pada Selasa (15/9/2026). Saham perseroan ditutup anjlok 13,25 persen atau turun 44 poin ke level Rp288 per saham.

Padahal, SMRA dibuka di level Rp328 dan sempat menyentuh Rp330. Namun, tekanan jual kemudian membawa harga saham tersebut turun hingga Rp284 per saham.

Pada perdagangan Rabu (16/9/2026), saham SMRA kembali sempat menyentuh Rp284 sebelum bergerak naik ke kisaran Rp296-Rp302 per saham.

Dalam sebulan terakhir, saham SMRA tercatat melemah 9,58 persen. Sementara sejak awal 2026, penurunannya mencapai 21,88 persen pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kabar mengenai proses hukum yang melibatkan pucuk pimpinan perusahaan menjadi salah satu perhatian pelaku pasar.

Namun, pergerakan harga saham tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kesalahan korporasi atau pihak lain di luar pihak yang ditetapkan dan diperiksa dalam perkara tersebut.

Kinerja Semester I-2026 Ikut Jadi Sorotan Tekanan terhadap SMRA juga terjadi ketika kinerja keuangan perseroan pada semester I-2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Summarecon mencatat pendapatan sebesar Rp4,25 triliun hingga semester I-2026. Angka tersebut turun 7,18 persen dibandingkan Rp4,58 triliun pada semester I-2025.

Penurunan lebih dalam terjadi pada laba bersih perseroan membukukan laba bersih Rp332,39 miliar atau merosot 33,98 persen secara tahunan. Dari sisi pendapatan, kontribusi terbesar masih berasal dari segmen pengembangan properti yang mencapai Rp2,55 triliun.

Segmen properti investasi menyumbang Rp1,2 triliun, sementara rekreasi dan perhotelan memberikan kontribusi Rp249,62 miliar segmen lainnya menyumbang Rp244,04 miliar. Menariknya, pelemahan pendapatan dan laba terjadi ketika total aset perseroan justru meningkat 7,72 persen menjadi Rp41,30 triliun.

Kondisi tersebut membuat perhatian investor tidak hanya tertuju pada perkembangan perkara hukum yang melibatkan jajaran manajemen, tetapi juga pada kemampuan perseroan menjaga kinerja bisnis di tengah tekanan pasar properti.

Marketing Sales 2025 Masih Tumbuh Di tengah tekanan kinerja semester I-2026, Summarecon sebelumnya mencatat pertumbuhan positif pada sisi operasional sepanjang 2025.

Perseroan membukukan marketing sales sebesar Rp5,53 triliun, tumbuh 27 persen dan melampaui target Rp5 triliun.

Capaian tersebut ditopang pengembangan sembilan kawasan kota terpadu, yakni Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Bogor, Bandung, Karawang, Makassar, Crown Gading, dan Tangerang.

Perseroan juga menyebut permintaan terhadap produk properti, khususnya segmen menengah dan menengah atas, masih menjadi salah satu penopang penjualan.

Konsep kawasan terintegrasi, kualitas pembangunan, inovasi produk, serta prospek nilai investasi jangka panjang menjadi faktor yang diandalkan perusahaan untuk mempertahankan permintaan.

Dividen Tetap Dibagikan Di tengah dinamika tersebut, Summarecon tetap membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp82,54 miliar.

Nilai tersebut setara sekitar 10,76 persen dari laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp766,55 miliar.

Pemegang saham menerima dividen sebesar Rp5 per saham. Kini, perhatian pasar tertuju pada perkembangan proses hukum yang tengah ditangani KPK serta bagaimana manajemen dan perseroan merespons situasi tersebut.

Bagi investor, dua persoalan berjalan beriringan: perkembangan perkara hukum yang menyeret petinggi perusahaan dan kemampuan SMRA mempertahankan fundamental bisnis di tengah penurunan pendapatan serta laba.

Dengan demikian, tekanan harga saham SMRA tidak dapat dibaca hanya dari satu faktor. Respons pasar juga berlangsung bersamaan dengan perubahan kinerja keuangan perseroan sepanjang semester I-2026.(Agus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *