Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Doa Lintas Agama dari Monas, Teguhkan Persatuan Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Suasana Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dipenuhi lantunan doa dan harapan untuk Indonesia dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu malam (1/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat kebersamaan antarumat beragama sekaligus menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus terus dijaga melalui persatuan, toleransi, dan semangat gotong royong.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta, Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr, menyampaikan bahwa doa memiliki peran penting dalam perjalanan kehidupan bangsa. Menurutnya, segala upaya pembangunan dan kerja bersama masyarakat perlu disertai dengan doa sebagai bentuk pengharapan kepada Tuhan.

“Doa menjadi dasar dalam kehidupan bangsa yang religius. Setiap usaha, kerja sama, dan langkah yang dilakukan manusia akan semakin sempurna apabila mendapatkan penyertaan dan berkat dari Tuhan,” ujar Romo Agustinus.

Apresiasi terhadap kegiatan doa lintas agama juga disampaikan Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara, Pinandita Gede Pastika. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan semangat persatuan masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman.

Menurutnya, keberagaman agama dan budaya bukan menjadi penghalang untuk bersatu, tetapi menjadi kekuatan dalam membangun keharmonisan bangsa.

“Kegiatan seperti ini menjadi ruang untuk menyatukan seluruh lapisan masyarakat dalam semangat kebhinekaan dan kebersamaan,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal Sangha Agung Indonesia, Bhikkhu Bhadranatha, Thera, turut menekankan pentingnya menjaga nilai cinta kasih dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia mengatakan, nilai-nilai Pancasila dan sikap saling menghargai menjadi fondasi utama dalam mempertahankan persatuan Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang.

“Keberagaman akan menjadi kekuatan apabila dilandasi cinta kasih dan semangat persatuan,” ujarnya.

Dari sisi umat Konghucu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Xs. Budi S. Tanuwibowo, menyebut doa lintas agama di Monas menjadi gambaran bahwa Indonesia mampu mengelola perbedaan dengan penuh kedamaian.

Ia mengibaratkan Indonesia seperti sebuah orkestra yang terdiri dari banyak unsur berbeda, namun mampu menghasilkan harmoni karena memiliki tujuan yang sama.

“Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, mengatakan semangat kebersamaan antarumat beragama merupakan warisan para pendiri bangsa yang harus terus dipelihara.

Menurutnya, persatuan dalam keberagaman menjadi modal penting untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Para pendiri bangsa telah memberikan teladan bahwa Indonesia dibangun bersama tanpa melihat perbedaan latar belakang. Nilai tersebut harus terus dijaga oleh generasi saat ini,” ungkapnya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menambahkan, zikir dan doa kebangsaan merupakan bentuk ungkapan syukur atas perjalanan panjang bangsa Indonesia sekaligus doa bersama untuk masa depan yang lebih baik.

Ia berharap Indonesia terus berkembang menjadi bangsa yang damai, harmonis, dan mampu memberikan kontribusi bagi dunia.

“Kita bersyukur atas berbagai capaian yang telah diraih bangsa ini dan terus memohon agar Indonesia menjadi negara yang semakin maju serta menjadi pusat peradaban dunia di masa depan,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, keberagaman Indonesia merupakan kekayaan besar yang harus dijaga bersama agar cita-cita kemerdekaan dapat terwujud.

Melalui Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, para tokoh lintas agama menyampaikan pesan yang sama bahwa persatuan, toleransi, dan kepedulian menjadi kunci menjaga Indonesia tetap kuat di tengah keberagaman.(Wil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *