Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Sekolah Rakyat Sukoharjo Jadi Wadah Penguatan Karakter dan Kemandirian Siswa

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Sukoharjo | Harian Merdeka

Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo, Jawa Tengah, dinilai memiliki potensi besar sebagai wadah penguatan pendidikan karakter peserta didik. Sistem pendidikan berasrama yang diterapkan memungkinkan pembentukan kemandirian siswa tidak hanya melalui kegiatan belajar mengajar, tetapi juga aktivitas keseharian di lingkungan asrama.

Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian menyampaikan penilaian tersebut saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program prioritas Presiden di Kabupaten Sukoharjo, Jumat (2/10/2026).

Hetifah mengapresiasi kesiapan sarana dan prasarana serta pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo. Menurutnya, sejumlah fasilitas telah digunakan dan berbagai unsur pendukung pendidikan, mulai dari siswa, guru hingga pengasuh asrama, telah berfungsi.

“Secara fasilitas alhamdulillah sudah terbangun hampir tuntas, ruang kelas sudah digunakan, rekrutmen siswa, guru, hingga pengasuh asrama juga sudah berfungsi. Kami melihat Sekolah Rakyat ini sangat berpotensi sebagai tempat untuk membangun pendidikan karakter anak-anak,” ujar Hetifah.

Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut menjelaskan, penerapan sistem boarding school pada jenjang SD, SMP hingga SMA membutuhkan proses adaptasi bagi peserta didik. Siswa tidak hanya mengikuti pembelajaran di kelas, tetapi juga menjalani berbagai kegiatan yang mendorong mereka untuk lebih mandiri.

“Di bulan-bulan awal tentu saja anak-anak mengalami penyesuaian, khususnya terkait kegiatan belajar mengajar dan kegiatan di luar KBM. Banyak waktu yang harus mereka gunakan untuk mengurus diri sendiri secara mandiri, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengikuti ekstrakurikuler dan ibadah bersama,” jelasnya.

Menurut Hetifah, proses tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa. Pengalaman Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo pun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi pengembangan program serupa di daerah lain.

“Apa yang terjadi di Sukoharjo ini mudah-mudahan bisa menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain,” tambahnya.

Kurikulum Mengacu Kemendikdasmen

Dari sisi akademik, Hetifah mengatakan kurikulum yang diterapkan di Sekolah Rakyat mengacu pada ketentuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sementara itu, tenaga pendidik direkrut melalui mekanisme yang telah ditetapkan dan berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di bawah Kementerian Sosial (Kemensos).

“Kurikulum tentunya mengikuti sepenuhnya yang dikeluarkan oleh Kemendikdasmen, termasuk guru-gurunya direkrut dengan prosedur tertentu. Mereka menjadi PPPK di bawah Kemensos sehingga statusnya cukup jelas dan fasilitas yang diberikan cukup baik,” jelas Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur tersebut.

Ia menambahkan, kegiatan peserta didik di luar kegiatan belajar mengajar di asrama juga telah memiliki petunjuk teknis dari Kemensos. Namun, aturan tersebut masih dapat disempurnakan berdasarkan hasil evaluasi dan temuan selama pelaksanaan program.

“Kegiatan di luar KBM di asrama juga sudah ada juknisnya dari Kemensos, yang tentunya akan terus kita sempurnakan berdasarkan hasil evaluasi di lapangan,” ujarnya.

Perlu Kolaborasi untuk Masa Depan Lulusan

Lebih lanjut, Hetifah menilai keberlanjutan program Sekolah Rakyat membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, dukungan tidak hanya diperlukan dari pihak sekolah dan orang tua, tetapi juga masyarakat serta dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan lulusan Sekolah Rakyat memiliki pilihan yang jelas setelah menyelesaikan pendidikan, baik melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya maupun memasuki dunia kerja.

“Karena ini program strategis yang baru, kita sangat membutuhkan kerja sama yang baik. Bukan saja dari lingkungan sekolah dan orang tua, tetapi juga dari dunia usaha dan industri untuk memastikan para lulusan dari Sekolah Rakyat ini bisa melanjutkan pendidikan atau langsung bekerja,” pungkasnya. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *